Oleh: Taufik Sentana*

Dunia akan tetap ada tanpa sastrawan. Laut akan tetap gemuruh dan bebukitan akan terus sembunyi dari kejauhan meskipun tanpa sastrawan. Jadi, apa pentingnya sastrawan itu? 

Setidaknya, sastrawan dapat berdiri diantara kehadiran karya tulis dan bahasa tulis. Secara makna, sastra mengacu pada kata dan bahasa. Dari sanalah kearifan, keindahan dan kebenaran disampai-sajikan. 

Idealnya sastrawan tidak lepas dari nilai, keyakinan dan pandangan hidupnya. Pun sastra bermakna pula “upaya mengajar” dan menyampaikan kepada khalayak dengan ragam bentuknya lewat syair, kisah, novel dan lainnya yang dapat menghadirkan rasa suka, gairah, kebanggaan  dan perbaikan.

Bila demikian, kita memerlukan sastrawan sebagai perakit makna dari peristiwa dan gejala keseharian kita dengan medium kata atau bahasa, yang dengannya kita tidak hanya terhibur, tapi juga tercerahkan dengan kearifan nilai.

Sehingga seorang sastrawan tidak hanya terlibat dalam karya tulis dan gaya bahasa tapi juga mendalami segala aspek kebahasaan dan mengorelasikannya dengan sistem nilai masyarakat. Misalnya, mewujudkan keadilan, perjuangan sosial atau mencerdaskan bangsa. Bukan sastra “pop” semata, dengan dalih ekonomi dan perbaikan gender, atau feminisme!.

Di poin ini, sastrawan tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi kumpulan harmoni dalam  “memantik” keindahan dan kebaikan masyarakatnya guna mencapai kebahagiaan sejati.

Selamat Hari Sastra, (kemarin, 3 Juli), 2020.[]

*Peminat Sastra, Praktisi pendidikan Islam.
Catatan: sebagian ulasan di atas dikutip bebas dari Wikipedia.