TAPAKTUAN – Syarif Basarah, 42 tahun, satu dari tiga anggota tim survei Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kluet 1 dari PT Tri Nusa Energy Jakarta yang hilang terseret arus Krueng (Sungai) Alue Buloh, puncak Gunung Desa Jambo Papeun, Kecamatan Meukek, Kabupaten Aceh Selatan, Kamis, 29 Desember 2016, berhasil ditemukan oleh masyarakat Desa Jambo Papeun, Sabtu, 31 Desember 2016, sekitar pukul 11.00 WIB.
Ratusan warga Desa Jambo Papeun yang menyisir pinggiran Krueng Alue Buloh sejak Jumat, 30 Desember 2016, sore, menemukan korban Syarif Basrah dalam keadaan telah meninggal dunia tersangkut batang kayu dan batu dalam Krueng Alue Buloh yang berjarak dari Tempat Kejadian Perkara (TKP) sekitar 25 hingga 30 meter.
Informasi penemuan salah seorang mayat korban tersebut disampaikan Sekretaris Desa (Sekdes) Jambo Papeun, Kecamatan Meukek, Sasmin kepada wartawan di Jambo Papeun, Sabtu, 31 Desember 2016.
Saat ditemukan posisi tubuh korban tersangkut batang kayu dan batu-batu besar dalam Sungai Alue Buloh. Tubuh korban masih utuh dan mengalami luka-luka lecet di sekujur tubuh yang diduga akibat benturan batu saat diseret air sungai. Ciri-ciri korban antara lain rambut panjang dan pakaian masih melekat utuh ditubuhnya, kata Sasmin.
Ratusan masyarakat Desa Jambo Papeun, kata Sasmin, sebagian ditugaskan mengevakuasi jenazah Syarif Basarah ke Jambo Papeun. Sedangkan yang lainnya terus melakukan proses pencarian terhadap dua korban belum ditemukan yaitu Testa Muhammad Abduh dan Muktar Yuli.
Berdasarkan keterangan beberapa orang saksi, jelas Sasmin, kronologi kejadian tersebut bermula dari keputusan pihak PT Tri Nusa Energy Jakarta yang sedang melakukan pekerjaan proyek pembangunan PLTA Kluet 1 di puncak Gunung Jambo Papeun berbatasan dengan puncak Gunung Menggamat Kecamatan Kluet Tengah. Lalu, diberangkatkan 22 orang rombongan terdiri dari 5 anggota tim survei dari Bandung Provinsi Jawa Barat dan 17 warga Desa Jambo Papeun sebagai pendamping dan penunjuk arah jalan, karena mereka sudah menguasai medan lokasi dimaksud.
Rombongan tim survei berjumlah 22 orang tersebut berangkat dari Desa Jambo Papeun pada 28 Desember 2016 sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah menempuh perjalanan sekitar lima jam akhirnya sekitar pukul 16.00 WIB mereka sampai di pinggir Sungai Alue Boluh.
Menurutnya, dari 22 orang rombongan tim survei tersebut sebagiannya ternyata telah berhasil menyeberangi Sungai Alue Buloh, sedangkan tiga korban hilang tersebut masih berada di seberang sungai. Saat itu, tim survei yang telah berhasil menyeberangi sungai memberitahukan kepada ketiga orang tersebut agar jangan menyeberangi lagi sungai. Sebab, air sungai mulai membesar disertai arus deras.
Ketika mereka sampai ke pinggir Sungai Alue Buloh kondisi cuaca memang sudah mulai turun hujan sehingga air sungai secara perlahan-lahan terus membesar. Karena diberitahukan agar jangan lagi menyeberangi sungai, akhirnya ketiga korban tersebut memutuskan mendirikan tenda di atas batu besar persis di pinggir Sungai Alue Buloh, ujar Sasmin mengutip keterangan saksi.
Karena keberadaan mereka sudah terpisah, sambung Sasmin, rombongan tim survei yang telah berhasil menyeberangi Sungai Alue Buloh mengaku tidak melihat secara langsung kapan ketiga korban tersebut hilang yang diduga terseret arus sungai. Keesokan harinya, 29 Desember 2016, mereka tidak melihat lagi keberadaan ketiga korban tersebut. Akhirnya dilakukan pencarian dengan cara menyisir muara sungai yang berjarak sekitar 3 Km dari TKP. Namun, dalam pencarian saat itu, mereka tidak berhasil menemukan ketiga korban, kecuali hanya menemukan tas milik korban di pinggir sungai.
Karena tenda yang didirikan pada Rabu 28 Desember 2016 sore oleh ketiga orang korban tersebut persis berada di pinggir sungai, diperkirakan pada malamnya secara tiba-tiba datang air sungai yang membesar menghempas mereka sekaligus dengan tenda. Jadi diperkirakan ketiga korban tersebut hilang mulai Rabu malam, tetapi baru diketahui hilang pada Kamis pagi, ungkapnya.
Untuk diketahui, jelas Sasmin, jarak antara Desa Jambo Papeun dengan lokasi TKP Sungai Alue Buloh sekitar 15 Km atau selama lima sampai enam jam perjalanan jalan kaki dengan mendaki gunung yang terjal dan berliku. Di lokasi tersebut, menurut Sasmin, terdapat sejumlah sungai termasuk Sungai Alue Rame yang sama-sama berhulu dari Gunung Leuser dan hilirnya ke Sungai Krueng Kluet melalui Menggamat Kecamatan Kluet Tengah dan Pucuk Lembang Kecamatan Kluet Timur.
Untuk menuju lokasi tersebut, kata dia, selain bisa melalui puncak Gunung Desa Jambo Papeun, Kecamatan Meukek juga bisa melalui puncak Gunung Sarah Baro atau Alue Keujruen, Menggamat Kecamatan Kluet Tengah. Namun, lebih dekat melalui puncak Gunung Jambo Papeun.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK) Aceh Selatan, Erwiandi membenarkan satu dari tiga korban hilang akibat terseret arus Sungai Alue Buloh telah ditemukan oleh masyarakat Jambo Papeun, Sabtu 31 Desember 2016, sekitar pukul 11.00 WIB.
Menurutnya, untuk mencari dua korban hilang lainnya pihak BPBK Aceh Selatan telah mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC) yang beranggotakan sebanyak 15 orang dengan diperkuat satu unit rubber boat.
Erwiandi menyebut tim dibagi tiga bagian yakni ratusan masyarakat Jambo Papeun dikerahkan untuk melakukan pencarian di TKP Sungai Alue Buloh. Sedangkan petugas TRC BPBK bersama Satgas SAR Aceh Selatan dikerahkan ke Sungai Kluet untuk melakukan penyisiran di sepanjang sungai tersebut karena muara Sungai Alue Buloh mengalir ke sungai Kreung Kluet dan sekitarnya.
Selain mengerahkan petugas TRC sebanyak 15 orang, kami juga telah memfasilitasi puluhan masyarakat Jambo Papeun yang dimobilisasi untuk sama-sama melakukan pencarian di sepanjang sungai Kreung Kluet, sebutnya.
Kapolsek Meukek Ipda Junaidi dihubungi, Sabtu 31 Desember 2016 melaporkan bahwa korban bernama Syarif Basarah yang berhasil ditemukan oleh masyarakat Jambo Papeun sedang dilakukan proses evakuasi dari puncak Gunung Jambo Papeun.
Karena jarak tempuh dari lokasi dengan perkampungan penduduk di Jambo Papeun cukup jauh dengan mendaki gunung yang terjal dan berliku, maka proses evakuasi jenazah membutuhkan waktu lama.
Proses evakuasi jenazah membutuhkan waktu lama, karena medan yang dilalui cukup sulit. Diperkirakan jenazah Syarif Basarah baru sampai ke perkampungan penduduk Desa Jambo Papeun pada Sabtu 31 Desember 2016 sekitar pukul 17.00 WIB, kata Ipda Junaidi.[]
Laporan Hendrik







