Oleh: Taufik Sentana
Jelang 74 tahun dirgahayu Indonesia tahun ini saya terpancing dengan tage linenya: SDM Unggul Indonesia Maju. Persepsi yang muncul di benak adalah bayangan “usia 74” itu sebagai usia yang renta. Apakah pada usia itu masih relevan bicara SDM unggul? walaupun proses menjadi unggul itu dapat berlangsung terus. Tapi hemat penulis, inilah ironi. Pemimpin bangsa kita tidak pernah tuntas memaksimalkan modal SDM secara tuntas dan simultan, sejak kita merdeka.
Pada bagian lain, mencermati tage line “SDM unggul” ini, saya terbayang tage line tahunan sebelumnya, yaitu ” Kerja dan prestasi kerja”.
Penulis memandangnya terbalik, bagaimana bisa SDM unggul muncul belakangan setelah sibuk “kerja dan kerja”?. Kemudian sepintas pemulis teringat bahwa SDM merupakan bagian dari prioritas Presiden terpilih untuk 5 tahun mendatang, sedangkan infrastruktur bagian dari bagian dari prioritas 5 tahun ini (Bagaimana dengan Revolusi Mental?).
Bila kita pandang dari sisi niat baik pemerintah, maka tage line SDM Unggul ini memerlukan landasan berfikir dan narasi aplikatif yang koheren agar tidak mengendap menjadi retorik belaka. Hal itu dapat tercermin dalam, katakanlah, pilitik pendidikan pada beberapa tahun ke depan, guna mencapai proyeksi Indonesia Emas di 2035-2045. Bila nihil dalam lini ini, maka sudah bisa dipastikan SDM unggul hanya menjadi mimpi Indonesia, bahkan pada usianya yang sudah renta, di atas 70 tahun lebih.
Maka diperlukan percepatan di bidang kualitas SDM kita dengan mengakomodir dan berkolaborasi lintas elemen ataupun lintaslembaga untuk memiliki visi bersama tentang SDM Unggul yang diharapkan kemudian, sembari mencermati nilai intelek (nalar sannkreativitas), skill dan moralitas bagi generasi yang dimaksudkan.[]
*Taufik Sentana
Praktisi Pendidikan Islam.


