Saat zaman semakin terbuka dan mobilitas manusia seakan tak ada henti, maka sang waktupun seakan sempit sekali.
Dulu manusia hanya bekerja sekadar memenuhi keperluan saat itu, lalu bersosialisasi, melakukan ritual ibadah dan istirahat.
Kini manusia tidak hanya bermisi menaklukkan bumi (seharusnya memakmurkan), tapi juga menaklukkan angkasa dan planet planet.
Laut laut telah ditembus, jarak yang jauh telah dipangkas hingga singkat. Gunung, hutan hutan telah dirambah. Jembatan, gedung gedung dan semua yang dibanggakan akan dibangun.
Sebab semua telah dalam genggaman, seketip teknologi berbasis digital dan gelombang seakan menghantarkan pada kecerdasan puncak yang tak berbatas.
Namun nanti, waktu jua yang membatasinya…….
Kesibukan, gairah dan ambisi kita telah mereduksi makna waktu itu. Hampir hampir kita tidak lagi bisa membedakan siang dan malam. Bahkan makna jauh dan dekatpun telah kabur!
Yah…karena waktu kita begitu sempit dan selalu tak cukup sarana untuk mengisi ruang jiwa yang terus meronta:
guna memilih kesementaraan atau keabadian.[]
Taufik sentana
Banyak menulis puisi dan esai sosial




