Kita masih menggenggam cinta yang lama. Cinta lama yang asli, yang selalu diperbarui. Sebab cinta bukan sepotong roti yang segera habis dicicip.
Dalam keadaan apapun cinta membutuhkan keyakinan dan pembuktian. Dari cinta rendah nafsani ke cinta tinggi yang selaras dengan makna pengabdian.
Kita ingin cinta ini menjadi mata yang hidup menatap jernih lorong waktu
saat sempit atau lapang.
Cinta yang demikian akan selalu
memberi ketakjuban. Walau menempuhnya bukan suatu yang mudah, tapi kita telah mengerti maknanya.[]
Taufik Sentana
Peminat sastra sufistik, sedang merampungkan Buku Puisi “Password Kebahagiaan”.


