LHOKSUKONKeberadaan sejumlah warung bandrek di jalan line pipa eks ExxonMobil, Gampong Nibong Baroh, Kecamatan Nibong, Aceh Utara, dinilai sangat meresahkan masyarakat. Pasalnya, selain pelayan wanita yang kerap berpakaian press body, lokasi warung juga minim penerangan di malam hari alias remang-remang.

Hal itu dibenarkan Camat Nibong, Fauzi Saputra, saat dihubungi portalsatu.com/, Minggu, 16 Desember 2018, sore. Diakui Fauzi, pihaknya sudah pernah menertibkan kawasan tersebut dengan menurunkan anggota Wilayatul Hisbah (WH). Namun hanya berefek satu hingga dua pekan, setelah itu kembali seperti semula.

“Ini kita cerita flashback ya. Sepuluh bulan lalu, saat awal saya menjabat Camat Nibong, tugas pertama saya adalah menertibkan kawasan-kawasan yang dinilai melanggar Syariat Islam. Salah satunya warung-warung bandrek yang ada di Nibong Baroh, yang bahkan sudah puluhan tahun kondisinya begitu,” ujar Fauzi yang sebelumnya menjabat Sekcam Nibong selama tiga tahun.

Fauzi melanjutkan, “Dari pemerintah, kita sudah pernah turunkan WH dan segalam macam lainnya, redalah dua hingga tiga pekan, setelah itu lanjut lagi. Kemudian kita mencari cara dengan meminta pihak gampong memberikan penerangan di lokasi warung. Karena jika kita minta sama pemilik warung, alasannya tidak ada dana dan lainnya.”

“Kita perintahkan geuchik pasang penerangan di lokasi. Namun ternyata, pedagangnya lebih pintar lagi, malah menempatkan kursi pelanggan di tempat yang tidak ada penerangannya,” ungkap Fauzi.

Terkait kedatangan ratusan anggota Front Pembela Islam (FPI) ke lokasi warung bandrek tersebut, Fauzi mengaku baru tahu belakangan. Menurut pihak FPI, mereka sudah melakukan pemantauan jauh-jauh hari mengenai situasi dan kondisi di lokasi warung tersebut.

“Semalam tidak ada kontak fisik, hanya cek-cok mulut biasa. Kemudian saya meminta mereka (FPI dan pemilik warung) untuk berkumpul di halaman masjid setempat yang memang dekat dengan lokasi. Itu kita lakukan karena di lokasi warung terlalu ramai dengan orang-orang yang tidak kita kenal, sehingga kita khawatirkan nantinya akan ada yang mengambil kesempatan untuk memanas-manasi situasi,” ucap Fauzi.

Dalam pertemuan itu, selain anggota FPI dan lima pemilik warung, juga hadir geuchik dan sekdes setempat. “Para pedagang itu mengatakan jika mereka tidak menyediakan, namun mereka mengakui tidak sanggup memantau semuanya. Pedagang bandrek juga bilang, mereka mencari rezeki, jika lokasi ditutup bagaimana nasib mereka,” kata Fauzi.

Dalam surat perjanjian tertulis, Fauzi menyebutkan, tidak ada larangan bagi para pedagang bandrek berjualan, hanya saja pukul 22.00 WIB tidak ada lagi wanita, baik pelayan (penjual) maupun pelanggan.

“Bagi pelanggan pasangan suami istri (pasutri), diperkenankan di lokasi di atas waktu tersebut apabila bisa menunjukkan buku nikah. Ini dilakukan karena tidak ada yang bisa menjamin apakah benar pasutri atau hanya sebutan pasutri. Para pedagang menyetujui perjanjian tersebut dan apabila melanggar, maka mereka bersedia lapaknya dibongkar oleh masyarakat. Penandatanganan surat perjanjian itu disaksikan geuchik, sekdes dan camat,” kata Fauzi.

Dalam hal ini, Muspika, khususnya camat, tidak meminta atau menginginkan warung-warung bandrek itu tutup. Namun, Fauzi meminta para pemilik warung untuk mematuhi norma-norma yang berlaku sesuai Syariat Islam. Di antaranya, selain memberi penerangan maksimal di lokasi, para pelayan wanita juga harus memakai pakaian yang agak longgar sesuai Syariat Islam.

“Semalam, di lokasi itu saya juga katakan kepada pemilik warung bandrek. Sebenarnya Pak Camat juga ingin sesekali minum bandrek di situ saat pulang kerja di sore atau malam hari. Tapi, pakaian pelayan dan lokasi warung yang sedemikian membuat saya tidak berani. Takutnya nanti bisa dikejar ibu camat,” ucap Fauzi Saputra sambil tertawa.

Selama ini, diakui Fauzi, dirinya sering memberikan imbauan secara gerilya kepada masyarakat saat santai ‘ngopi’ di warung kopi setempat. “Sesuai visi misi Bupati Aceh Utara, kita imbau masyarakat untuk menggalakkan pengajian ba’da magrib dan tidak menghidupkan televisi di waktu itu. Malah sebenarnya yang paling mengerikan saat ini adalah pengaruh game online. Sosialisasi secara lisan itu kita berikan bertahap, pelan-pelan,” pungkas Fauzi Saputra. []