Tersebutlah seorang Kiyai, anggap saja Kiyai Abdan, berkunjung ke rumah sahabatnya . Sahabatnya ini termasuk Kiyai yang lebih mashur dan lebih dihormati di banyak tempat.
Sesampainya di sana, ia melihat sang sahabat sedang membersihkan mobil mercynya. Ia juga merasa terkesima dengan rumah besar sang Kiyai yang menjadi sahabatnya.
Ketika Kiyai Abdan menghampirinya, sang sahabat tadi hampir selesai membersihkan mobii mercynya. Kepada Kiyai Abdan sang sahabat berkata akan mengajaknya jalan jalan dengan Mercy barunya. ” Ada syaratnya,” kata sang sahabat kepada Kiyai Abdan sambil tersenyum.
Kiyai Abdan mengikuti syarat tersebut. Yaitu dengan membawa dan memegang segelas air penuh ke dalam mobil Mercy sahabatnya. Sementara itu sahabatnya menyetir mobil dan Kiyai Abdan memegang segelas air tadi agar jangan sampai tumpah.
Setelah Kiyai Abdan selesai berkeliling dengan mobil mercy sahabatnya, ia pun memberanikan diri untuk bertanya perihal segelas air penuh yang mesti ia pegang agar tidak tumpah saat mengendarai mobil tadi.
Kata sahabatnya, tentu tidak mudahkan menjaga air dalam gelas tadi agar tidak tumpah?, sementara mobil bergerak dan melaju. Kiyai Abdan pun sependapat dengan ungkapan itu sebab ia merasakan bagaimana susahnya menjaga air di dalam gelas tadi.
“Maksudnya apa, Kiyai?” Tanya Kiyai Abdan kepada sahabatnya.
Sang sahabat menjawab,
” Setidaknya begitulah sulitnya menjaga kedekatan kita kepada Allah dan selalu berhati hati atas setiap nikmatNya”.
Demikianlah sekelumit ibrah dari pergaulan antar-Kiyai/ulama dan cara mereka membimbing kita untuk selalu taqarrub kepada Allah. Semoga bermanfaat.[]
Diceritakan kembali oleh Taufik sentana.
Peminat literasi kesufian. Sumber: Gus Baha dalam Kanal Santri Gayeng.




