BANDA ACEH – Sejarawan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Rusdi Sufi mengatakan bahwa tradisi meugang di Aceh wajib memasak daging di rumah. Hal tersebut menurut dia adalah tradisi yang sudah lama dan amat melekat dalam tatanan hidup orang Aceh.

“Menyoe meugang di Aceh sang menyoe hana sie han pah. Nyan ka jeuet saboh tradisi yang turun temurun,” ucapnya saat dihubungi portalsatu.com, Minggu 5 Mei 2016.

Dosen Prodi Sejarah Unsyiah ini juga mengatakan bahwa sangat sulit melacak kepastian kapan terjadinya tradisi neugang tersebut. Pasalnya tradisi tersebut sudah lama ada di Aceh. Namun ia mengatakan bahwa ada 3 kali meugang di Aceh.

“Ada meugang menyambut bulan Ramadhan, ada meugang menyambut Idul Fitri dan bahkan ada juga meugang menyambut Idul Adha,” ucapnya.

Menurut Rusdi, ada sebuah rasa ketidaknyaman yang dirasakan kepala keluarga saat meugang namun tidak ada daging rumahnya. Hal tersebut terjadi karena sudah menjadi hal yang umum bahwa daging pada saat meugang wajib ada.

“Walaupun sikilo sie sang memang na di saboh rumoh watee meugang,” kata dia.

Lebih lanjut ia juga menuturkan, seorang perantau dianjurkan untuk pulang kampung saat meugang. “Jameun yang merato pih lee yang woe watee meugang,” kata dia.[]