LHOKSEUMAWE – Jalan pasar los terasa sangat panas. Sementara matahari kian terik menjelang tengah hari. Orang-orang terlihat sibuk lalu-lalang. Jamak dari mereka menenteng tas plastik dengan aroma daging mentah dan minuman dingin di tangan lainnya. Minggu, 5 Mei 2016. Ini adalah hari meugang menjelang Ramadhan.
Tradisi meugang di Aceh memang mewajibkan untuk menghadirkan daging di rumah. Daging tersebut dimasak dengan berbagai macam variasi seperti kari, sop bahkan rendang. Tradisi itulah yang membuat setiap rumah di Aceh miliki aroma masakan daging pada saat meugang,
Sejarawan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Rusdi Sufi mengatakan tradisi meugang di Aceh wajib memasak daging di rumah. Hal tersebut menurutnya adalah tradisi yang sudah lama dan amat melekat dalam tatanan hidup orang Aceh. Tanpa daging di hari meugang suasana meugang agaknya terasa hambar.
“Menyo meugang di Aceh, sang menye hana sie han pah. Nyan ka jeut saboh tradisi yang turun temurun,” katanya saat dihubungi portalsatu.com, Minggu, 5 Mei 2016.
Hari itu portalsatu.com sedang berteduh di sebuah warung kopi di Lhokseumawe. Tepatnya jalan pasar los. Warung tersebut sangat sederhana. Hanya ada empat bangku panjang dan dua meja yang memanjang pula. Mayoritas yang datang adalah para pedagang sekitar yang terlihat akrab dengan pemilik warung. Mereka memanggil pemilik warung dengan sebutan 'Cek'.
Dari arah jalan raya sebuah becak datang. Di tengah terik matahari ia memakirkan kendaraan tiga rodanya dan mampir di kedai kopi tersebut. Sesampai disana, dia langsung memulai percakapan dengan pemilik warung.
“Meuhai that ka sie. Sikilo ka Rp 170 ribe,” katanya yang terlihat akrab dengan pemilik warung. Ia juga melihat ke arah portalsatu.com sembari tersenyum dan mengangguk.
“Pu cit dipeugah le Jokowi yum sie han jeut leubeh dari Rp 80 ribe sikilo,” timpal pemilik warung tersebut.
Tukang becak yang belakangan di panggil Bang Li itu kembali menimpali. “Nyan sie celeng (Babi) kadang,” sembari mengelap tetesan keringatnya dengan tisu berwarna merah muda.
Hari ini harga daging sapi di Aceh melonjak tinggi. Harga perkilogram daging sapi mencapai Rp 170 ribu. Hal tersebut sangat jauh berbeda dengan pernyataan Jokowi beberapa waktu lalu. Presiden yang awal Mei lalu mengunjungi Aceh itu mengatakan harga daging jelang Ramadhan tak boleh lebih dari Rp 80 ribu perkilogram. Namun nyatanya harga daging tembus Rp 170 ribu, khususnya di Aceh.
Akan tetapi, percakapan tukang becak dan pemilik warung kopi hari itu hanya sebatas mengeluh. Tidak ada kalimat yang mengecam pemerintah apalagi orasi untuk turun ke jalan. Kipas angin di warung kopi itu terus berputar namun tak kunjung menyejukkan. Dan harga daging di hari meugang tetap saja mahal.[](bna)




