LHOKSEUMAWE – Penanganan pengungsi korban bencana gempa Pidie Jaya sampai saat ini masih menyisakan banyak persoalan. Terutama masalah air bersih untuk kebutuhan minum dan memasak. Selain itu, kebutuhan MCK di titik lokasi pengungsi terbesar belum tertangani dengan baik dan sangat kurang penanganan trauma healing bagi korban rentan.
Ada sekitar 150 titik lokasi pengungsian besar dan kecil di beberapa kecamatan di Pidie Jaya, hasil amatan kami semuanya masih serba kekurangan, terutama air bersih. Penyebab utamanya karena suplai air bersih dari PDAM terhenti setelah gempa, sumber air bersih yang rusak dan hanya baru beberapa hari ini sudah mengalir kembali itupun waktu pagi-pagi sekali, kata Koordinator posko Pramuka Kwarda Aceh, Romi kepada portalsatu.com, Rabu, 14 Desember 2016.
Menurut pria yang pernah terlibat langsung dalam penanganan pascabencana gempa dan tsunami Aceh 2004 itu, suplai air bersih tersebut jauh dari kata cukup. Hal ini jika dibandingkan kebutuhan pengungsi sangat besar dan terus bertambah, imbas dari seringnya gempa susulan.
Air bersih kebutuhan mendasar korban, jadi ini harus ada penanganan bersama dengan melibatkan banyak pihak, ujar Romi.
Romi mengatakan air bersih tidak hanya untuk minum dan memasak saja, tetapi juga sangat perlu untuk kebutuhan MCK. Bila pengungsi menggunakan air tidak bersih akibatnya akan lebih rumit, yaitu akan mewabah penyakit, seperti diare, gatal-gatal dan lainnya. Terutama yang terkena adalah kalangan rentan seperti balita, anak-anak dan wanita.
Dia berharap suplai memadai air bersih merupakan langkah antisipasi terjadinya berbagai persoalan tersebut.
Pihaknya juga mengamati, penanganan masih terkosentrasi pada titik pengungsian terbesar dan itu di sepanjang jalan Medan-Banda Aceh. Sementara di kawasan perkampungan masih minim bantuan. Warga yang trauma akibat gempa susulan memilih membuat tenda seadanya di depan rumah juga butuh bantuan. Apalagi mereka tidak bisa beraktivitas secara normal.
Masih banyak pengungsi yang tidak mendapatkan bantuan tenda terpaksa membangun tenda dari terpal bekas jemuran kakao. Ini menjadi bukti, penanganan korban gempa belum merata. Bantuan-bantuan mendasar seperti itu sangat dibutuhkan apalagi di musim hujan seperti saat ini. Tapi proses penanganan korban gempa dalam beberapa hari ini jauh lebih baik dari sebelumnya, proses distribusi bantuan terus digalakkan dari posko utama di kantor bupati Pidie Jaya, kata Romi.
Penanganan trauma healing bagi korban rentan juga dirasa belum maksimal. Padahal ini sangat perlu terutama pada anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah.
Seharusnya hari ini sudah ada tenda-tenda darurat untuk mengganti ruang kelas yang sudah rusak, dan anak-anak sudah belajar kembali. Harapan kita ke depan, penanganan berjalan cepat, tepat dan efektif, kita harus belajar dari musibah sebelumnya, katanya.[]
Laporan: Sirajul Munir

