Sejumlah seniman yang berdomisili di Banda Aceh menghadiri acara Desember Kopi di Takengon, 7 dan 8 Desember 2019. Pada hari pertama 7 Desember, rombongan mengunjungi pabrik kopi “Aman Kuba” di Jalan Abekader Bebesan. Pabrik Aman Kuba didirikan pada tahun 1958 oleh pemiliknya H. Aman Kuba putra setempat. 

Pruduksi pabrik kopi Aman Kuba lebih banyak memproduksi jenis “kopi Arabika”. Selain itu juga memproduksi jenis kopi Robusta.

Secara umum, permintaan yang paling banyak adalah jenis kopi arabika yang selain disalurkan ke pasar domestik juga menembus pasar dunia, misalnya ke negara Malaysia, Singapura, Thailand, Arab Saudi, Amerika, Jepang, Perancis, dan Belgia yang menghasilkan devisa negara Rp 5 triliyun per tahun. Jumlah lahan kebun kopi arabika di dataran tinggi adalah 1.800 ha.

Salah seorang peserta dari Banda Aceh, Azhar Aida Panglima, dari Ceurana Institute Aceh, mengatakan, setelah berkunjung pabrik kupi Aman Kuba, rombongan tamu mengunjungi kebun kopi arabika.

“Kebun ini dibuat supaya tamu yang datang bisa melihat langsung buah kopi yang masih di batangnya. Kemudian di area kebun kopi kita bisa menikmati langsung menyeruput kopi di cangkir lalu teguk langsung di kebun yang diberi nama “Galeri Kopi Indonesia” yang lokasinya berjarak hanya 1 kilometer dari Kota Takengon, Kecamatan Pegasing. Di sana seniman membacakan puisi puisinya bertemakan tentang kopi,” kata Azhar.

Pada hari kedua 8 Desember 2019, kata dia, mereka ke kampung (desa) Bale Bujang kecamatan Lut Tawar Takengon.
Tempat itu adalah sebuah bukit pegunungan Bur Telege salah satu destinasi wisata di sebelah selatan danau Lut Tawar Takengon yang ketinggian puncaknya mencapai 1.250 meter di atas permukaan laut.

Kata Azhar, agenda kunjungan ke lokasi wisata Bur Telege adalah selain promosi kopi Gayo, promosi lokasi wisata, melindungi hutan lindung kemudian mendorong pemerintah agar segera mengeluarkan Qanun Pelestarian Hutan Rakyat dan Lingkungan Hidup.

“Pengisi acara ini di antaranya, ada Sanggar Matahari Jakarta, sanggar Pegayon Jakarta, seniman/Forum sastrawan Deliserdang Medan, Theater Ma'e dan Theater Rongsokan Banda Aceh. Baca puisi tema kopi oleh Fikar W. Eda, Salman Yoga S, Rahmat Sanjaya, Wina SW1, Mahdalena, Devi Matahari, Kamal Fosad, Fuad Mardhatillah, dan Azhar Panglima. Pelukis yang memamerkan karyanya ada Fadhlan dari Sabang dan Kamar Agam di Takengon,” kata Azhar.

Pembukaan “Desember Kopi Gayo” ini dihadiri oleh beberapa piha, di antaranya Deputi Kehutanan dan Lingkungan Hidup Kementrian Kehutanan RI Jakarta. Ia membuka dan mencanang Pusat Riset Kopi Gayo dan membuka Forest Park Aceh tengah. Hadir pula Anggota komisi IV DPRI, TA. Khalid, Anggota DPR-RI H.Irmawan, MM, Bupati Aceh Tengah Drs. Shabela Abubakar, tokoh masyarakat Tagore Abubakar, dan para camat dalam Kabupaten Aceh Tengah.

Sementara hadirin dari kalangan budayawan dan seniman Aceh, antara lain hadir Sanggar Matahari dari Jakarta, Majelis Seniman Aceh (MaSA) dari Banda Aceh, Ceurana Institute dari Bireuen, Seniman Sumatera Utara dari Forum Sastrawan Deli Serdang Medan, Sanggar “Pegawon” dari Jakarta, Theater “Ma'e” dari Banda Aceh, teater “Rongsokan” dari Banda Aceh, pakar budaya Aceh Dr. Fuad Mardhatillah dari Banda Aceh, dan beberapa sanggar dari anak anak melenial Gayo.

“Jumlah pengunjung yang hadir di lokasi wisata Bur Telege Lut Tawar Gayo berjumlah sekira 3.000 orang. Acara ini agendanya setiap setahun sekali akan digelar di tanah Gayo, disiasati oleh Fikar W. Eda, Desember Kopi Gayo kali ini yang ke 4 (DKG IV) di Takengon Aceh Tengah,” kata Azhar[] Rilis