BANDA ACEH – Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di seluruh dunia tak terkecuali Indonesia dan Aceh ikut berdampak terhadap kegiatan usaha masyarakat di sektor perekonomian. Bahkan, omzet pedagang Pasar Aceh yang menjadi pusat perbelanjaan di Ibu Kota Provinsi Aceh menurun drastis. Sejumlah pedagang terpaksa banting setir ke usaha kuliner.

Jika selama ini Pasar Aceh selalu ramai dengan para wisatawan yang berbelanja berbagai oleh-oleh khas Aceh dan pakaian muslim, kini mulai sepi dari pembeli. 

Salah satu pedagang kain di Pasar Aceh, Ridwan Muhammad, mengatakan selama pandemi Covid-19 penjualan dagangannya kian menurun. Biasanya, kata dia, penjualan sudah habis 50 persen, tapi sekarang masih belum banyak laku.

“Kami dagang kain juga menurun, biasa kami dagang kain sampai ini hari, sudah tinggal seperempat, tapi kali ini masih tetap macam biasa. Paling ada satu kodi dua kodi dapat,” kata Ridwan Muhammad.

Ramadan sebelumnya, sebut Ridwan, omzet penjualan sangat baik, bahkan naik dratis. Kata Ridwan, pedagang memasukkan barang Rp50 juta, bisa kembali Rp75 juta. “Kita bisa untung 50 persenlah. Kalau tahun ini tidak bisa, kain sarung dapat (untung) Rp5 ribu – Rp6 ribu kasih aja, Rp10 ribu paling mahal kasih aja,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala Pengelola Keuangan Pasar Aceh, Masyitah. Dia mengatakan, pembeli sangat sepi dibandingkan tahun lalu, karena pengunjung tidak seramai tahun sebelumnya akibat penyebaran virus corona di Aceh.

“Hasil pendapatan pedagang juga tidak signifikan, artinya barang ada keluar tapi belum sesuai targetnya,” ungkap Masyitah saat dihubungi portalsatu.com via WhatsApp, Senin, 27 April 2020.

Menurut Masyitah, masyarakat masih enggan keluar rumah, karena instruksi pemerintah dan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19. Dia menilai, masyarakat juga tengah fokus mempersiapkan kebutuhan untuk puasa Ramadan.

“Masyarakat pun masih waswas untuk keluar rumah, dan saya melihat banyak masyarakat yang masih fokus untuk memenuhi kebutuhan untuk Ramadan, karena mereka tahu tahun ini kan ditunda untuk mudik,” tutur Masyitah.

Masyitah mengakui omzet penjualan pedagang di Pasar Aceh menurun drastis hingga 50 persen akibat Covid-19. Bahkan, pendapatan operasional pihaknya pun tidak mencapai target. 

“Ada sebagian pedagang yang menyiasati dengan jual masker dan ada pula yang beralih ke kuliner,” ujarnya.

Selama Covid-19 ini, kata Masyitah, pedagang memanfaatkan penjualan melalui daring (online), sehingga penjualan tetap berjalan meski tidak secara langsung.

“Itu pasti, bahkan tidak sedikit dari mereka yang langsung mengantarkan barang ke rumah konsumen karena banyak konsumen yang takut keluar rumah.” ungkapnya.

Masyitah berharap, pandemi Covid-19 yang sudah ditetapkan sebagai bencana nonalam ini segera berakhir, sehingga masyarakat Aceh dapat menjalankan ibadah puasa dengan tenang, serta kembali berbelanja kebutuhan Ramadan dan Idulfitri nantinya.

“Buat pemerintah juga terima kasih karena sudah berupaya meringankan beban masyarakat. Kalau bisa dibagilah sedikit uang sebagai pengganti income yang hilang,” ucapnya.[]