LHOKSEUMAWE – Para relawan Central Information for Samudra Pasai Heritage (Cisah) bersama Pelajar Peduli Sejarah Aceh (Pelisa) meuseuraya (gotong royong) menyelamatkan jejak sejarah, di Cot Kandeh, Gampong Meunasah Mesjid, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe, Jumat, 6 April 2018, sore.
Cot Kandeh berada di belakang Kompleks Perumahan BTN Panggoi Atas, Kecamatan Muara Dua. Cot Kandeh adalah sebutan masyarakat setempat untuk lokasi kompleks makam peninggalan sejarah itu. Di lokasi tersebut ditemukan puluhan batu nisan tipologi zaman Kerajaan Islam Samudra Pasai dan Aceh Darussalam. Kompleks makam itu berada di dalam lahan milik Husaini, salah seorang pengusaha di Cunda, Lhokseumawe.
Sebagian besar batu nisan di lahan tersebut terbenam dalam tanah. Oleh karena itu, para relawan Cisah bersama Pelisa dari SMAN 5 Lhokseumawe meuseuraya untuk menyelamatkan jejak sejarah berupa batu nisan peninggalan zaman Samudra Pasai dan Aceh Darussalam. Batu-batu nisan yang terbenam dalam tanah diangkat ke permukaan, ditata kembali sebagaimana mestinya, dibersihan, dan didokumentasikan untuk kepentingan penelitian sejarah.
Pantauan portalsatu.com/, meuseuraya itu dihadiri Ketua Cisah, Abdul Hamid (Abel Pasai) bersama timnya, Ketua Pelisa, Bagus Indrawan dan anggotanya, dua guru SMAN 5 Lhokseumawe, Almuzalir (guru kesenian), dan Yuni Yunita (guru matematika). Turut hadir beberapa pemuda Gampong Paya Punteut dan Paloh Bate, Kecamatan Muara Dua, dan Nazir Sulaiman, 50 tahun, warga Kompleks Perumahan BTN Panggoi Atas. Lokasi lahan milik Husaini yang di dalamnya terdapat kompleks makam peninggalan sejarah tersebut berada di belakang rumah Nazir Sulaiman.
Di lokasi meuseuraya, Cisah membentangkan selembar spanduk bertuliskan, “Berbuat baiklah dan bersegeralah untuk itu”. Menurut Wakil Ketua Cisah, Sukarna Putra, pihaknya menemukan kalimat tersebut dalam bentuk inskripsi yang terpahat pada salah satu nisan makam peninggalan sejarah Samudra Pasai, saat tim Cisah meuseuraya di Nibong, Aceh Utara, Jumat pekan lalu.
48 Nisan
Sukarna Putra menjelaskan, relawan Cisah menemukan kompleks makam peninggalan sejarah di Cot Kandeh pada tahun 2012. “Saat itu kita sudah melaporkan temuan ini kepada dinas yang membidangi kebudayaan di Pemko Lhokseumawe,” kata dia diamini Ketua Cisah, Abel Pasai dan Sekretaris Cisah, Mawardi ismail. (Saat itu Bidang Kebudayaan berada di bawah Dinas Perhubungan, Pariwisata dan Kebudayaan. Sekarang Bidang Kebudayaan berada di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe)
Sekitar enam tahun setelah ditemukan kompleks makam itu, relawan Cisah bersama Pelisa kemudian melaksanakan meuseuraya di Cot Kandeh untuk menyelematkan nisan-nisan peninggalan sejarah tersebut, Jumat (kemarin). Sebelum dilakukan meuseuraya, sebagian besar batu nisan terbenam dalam tanah.
“Meuseuraya ini untuk menyelamatkan nisan-nisan yang sudah terbenam dalam tanah. Kita angkat ke permukaan untuk ditata kembali sebagaimana mestinya, juga kita bersihkan inskripsi-inskripsi (tulisan dalam bahasa Arab yang terpahat) pada batu nisan yang sudah berlumut dan aus, kemudian kita oleskan kapur tulis untuk memperjelas inskripsi, sehingga dapat kita dokumentasikan untuk diteliti lebih lanjut tentang isi inskripsi tersebut,” ujar Sukarna Putra.
Menurut Putra, hasil pendataan setelah meuseuraya, jumlah batu nisan peninggalan sejarah dalam kompleks makam itu sebanyak 48 nisan. “Yang berpasangan 21 nisan (21 x 2 = 42 nisan), dan tanpa pasangan enam nisan. (42 + 6 = 48 nisan),” katanya.
Putra menyebutkan, 48 nisan itu terdiri dari batu nisan tipologi zaman Kerajaan Islam Samudra Pasai sebanyak 16 pasangan batu nisan (16 makam), dan batu nisan tipologi Aceh Darussalam lima makam (lima pasangan batu nisan). Lima batu nisan Samudra Pasai lainnya tanpa pasangannya, dan satu nisan Aceh Darussalam juga tidak ditemukan pasangannya. Diperkirakan masih ada batu nisan yang terbenam dalam tanah di lahan tersebut.
“Dari jumlah itu, yang ada inskripsi pada enam batu nisan tipologi Aceh Darussalam. Semua inskripsinya berupa kalimat tauhid: Lailahaillallah Muhammadarrasulullah. Sejauh ini belum ditemukan inskripsi tentang identitas pemilik makam, dan akan diteliti lebih lanjut oleh ahli epigrafi dari Cisah,” ujar Putra.
Tiga temuan menarik
Putra menyampaikan beberapa hal menarik yang ditemukan di kompleks makam peninggalan sejarah di Cot Kandeh itu. Pertama, ada perbauran (campuran) antara nisan makam peninggalan zaman Samudra Pasai dan Aceh Darussalam. “Jadi, bukti sejarah ini diperkirakan peninggalan masa akhir Samudra Pasai dan masa awal Aceh Darussalam,” katanya. (Era Samudra Pasai abad 13 – 16, sedangkan Aceh Darussalam abad 16 – 20).
Menurut Putra, sejauh ini di wilayah Lhokseumawe, Cisah baru menemukan di lokasi tersebut, ada nisan tipologi Samudra Pasai dan Aceh Darussalam dalam satu kompleks makam. Sedangkan di lokasi lainnya, dalam satu kompleks makam hanya ada nisan tipologi Samudra Pasai, dan di kompleks makam terpisah terdapat nisan tipologi Aceh Darussalam (tidak bercampur nisan Samudra Pasai dengan Aceh Darussalam).
Hal menarik kedua, kata Putra, di Cot Kandeh ditemukan satu badan makam terbuat dari batu karang, dan nisannya tipologi Samudra Pasai. Mulanya, badan makam itu terbenam dalam tanah, kini sudah diangkat ke permukaan melalui meuseuraya Cisah dan Pelisa. Sejauh ini, di wilayah Lhokseumawe, Cisah baru menemukan dua badan makam peninggalan sejarah Samudra Pasai yang bahannya terbuat dari batu karang. Satu badan makam lainnya yang terbuat dari batu karang ditemukan tim Cisah di Jeulikat, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe saat meuseuraya di kompleks makam peninggalan sejarah, sekitar tahun 2011.
Temuan menarik ketiga di Cot Kandeh, Putra melanjutkan, ada salah satu batu nisan tipologi Samudra Pasai, tapi ornamennya dari Aceh Darussalam, yaitu gambar “Pinto Aceh” yang terukir/terpahat pada batu nisan itu. Ukuran batu nisan itu kecil, sekitar 25 cm.
Cisah berharap kepada pemilik lahan di Cot Kandeh yang terdapat kompleks makam peninggalan sejarah Samudra Pasai dan Aceh Darussalam, agar lokasi tersebut tetap dijadikan situs sejarah. Tidak dialihfungsikan untuk kebun atau membangun rumah.
“Harapan Cisah yang paling besar kepada Pemerintah Kota Lhokseumawe agar kompleks makam peninggalan sejarah ini bisa dipugar dan dilestarikan dengan baik,” ujar Putra.
‘Kalau bukan kita siapa lagi’
Ketua Pelisa, Bagus Indrawan, mengatakan, anggotanya yang ikut meuseuraya itu delapan orang, yaitu murid kelas dua dan kelas tiga SMAN 5 Lhokseumawe. Ada juga beberapa alumni Pelisa (sudah lulus SMAN 5 Lhokseumawe).
“Kita ikut bergotong royong bersama Cisah menyelamatkan bukti sejarah, yaitu nisan-nisan indatu-indatu kita yang hidup pada masa Kerajaan Samudra Pasai. Kalau bukan kita generasi muda Aceh saat ini yang mau peduli dengan peninggalan sejarah Aceh, kepada siapa lagi hal ini bisa diharapkan. Menurut kami, situs sejarah ini sangat penting diselamatkan dan dirawat dengan baik,” kata Bagus.
Pelisa dibentuk sejak 2014 dan sudah melaksanakan sejumlah kegiatan di situs-situs sejarah sebagai bentuk kepedulian terhadap peninggalan sejarah Kerajaan Islam Samudra Pasai dan Aceh Darussalam.
Guru SMAN 5 Lhokseumawe, Yuni Yunita, mengatakan, ia mendukung murid-muridnya supaya lebih peduli terhadap situs-situs sejarah Aceh yang selama ini luput dari perhatian pemerintah. “Rata-rata anak muda sekarang kan lebih cenderung kepada gaul-gaul yang tidak menentu. Jadi kita dorong untuk peduli terhadap peninggalan sejarah Aceh, karena hal itu sangat penting untuk menambah pengetahuan mereka tentang sejarah,” ujarnya.
“Murid SMAN 5 ini pelopor dari pelajar yang mencintai situs sejarah Aceh. Mudah-mudahan kepedulian terhadap situs sejarah Aceh diikuti oleh pelajar dari sekolah-sekolah lainnya di Aceh. Dengan semakin banyak pelajar yang peduli sejarah Aceh, maka akan lebih banyak pekerjaan yang dapat dilakukan seperti meuseuraya untuk menyelamatkan jejak sejarah Aceh yang selama ini terabaikan,” kata guru matematika ini yang mengaku tertarik mempelejarai sejarah Aceh.
Nazir Sulaiman, warga Kompleks Perumahan BTN Panggoi Atas mengatakan, lokasi makam peninggalan sejarah itu disebut oleh masyarakat setempat “Jrat (Makam) Cot Kandeh”. “Dahulu lokasi ini merupakan hutan yang dipenuhi semak belukar (sebelum dibangun Kompleks Perumahan BTN Panggoi Atas). Kemudian lokasi ini dibersihkan oleh pemilik lahan dan dijadikan kebun. Lahan ini milik Pak Husaini, seorang pengusaha di Cunda, Lhokseumawe,” ujarnya.
Dia mengapresiasi Cisah dan Pelisa yang meuseuraya untuk menyelamatkan nisan-nisan peninggalan sejarah di kompleks makam di Cot Kandeh. Dia berharap Pemko Lhokseumawe memugar kompleks makam itu, sehingga nisan-nisan peninggalan sejarah tidak terbenam dalam tanah atau tidak hilang maupun rusak. “Karena nisan-nisan ini merupakan bukti sejarah yang harus kita selamatkan supaya diketahui oleh anak cucu kita generasi Aceh,” kata Nazir.[](idg)



