AKU tiba di Batam pada Jumat, 14 September 2018. Ini hari kedua aku di kota pulau Melayu ini. Pagi itu, bersama Wes. Begitulah namanya dipanggil. Aku mengenalnya dulu di Banda Aceh, tahun 2007, saat kami sama-sama tidur di pos pasa yang belum aktif. Dari Nagoya, aku menuju Sekupang. Kami melewati aneka jalan kota itu. Setelah beberapa lama, kami tiba di tempat Komunitas Rumah Hitam Batam, tepat di depan kantor Camat Sekupang.
Di sana telah ada kedai kecil kayu yang dihiasi ukiran pelitur. Ini berbeda dengan gambar yang kulihat di media online, hanya satu kios warna hitam, setelah tempat itu digusur untuk bangunan modern. Ternyata itu cerita lama. Kini sudah bagus.
Ia menjemput kami ke atas dan mengajak turun. Tarmizi memiliki tempat untuk berkarya di bawahnya, barisan ruko. Kami tidak sempat bicara apa-apa selain sapaan pertemuan. Tarmizi harus segera ke Bandara menyambut Isbedy Setiawan ZS dan kafilahnya dari Lampung, yang terbang melalui Jakarta. Nama Isabedy telah sering kubaca sejak tahun 2000-an, di Majalah Sastra Horison.
Aku dan Wes menunggu di depan ruko yang di sana telihat orang menjahit ikat kepala atau tangkulok Melayu. Dan seorang mengelas rangka baja. Pada malam harinya, baru kutahu, tangkulok dan rangka baja itu untuk acara membaca puisi bersama. Rangka baja untuk panggung kecil, dan tangkulok untuk dipakai di kepala.
Setelah beberapa saat di sana, kami pun pindah ke sebuah kedai kopi di sampingnya. Di sana kemudian datang sorang mahasiswa kandidat doktor di salah satu universitas di Jerman, jurusan sastra Asia Tenggara. Ia ke sana juga ingin mewawancarai Tarmizi, sebagai salah satu narahubung (narasumber), sama sepertiku. Bedanya, ia meneliti bagian seni panggung. Sementara aku meneliti sosial kebudayaan masyarakat Aceh dan lainnya di Batam. Hasil penelitiannya untuk disertasi doktor. Sementara hasil penelitianku untuk novel atau buku esai.
Setelah makan mie semangkuk, aku dan Wes berpamit sementara, ke Jembatan Barelang. Di dekat jembatan itu kami hanya makan jagung bakar dan berfoto, kemudian kembali. Sepulang dari sana, di perjalanan, setelah melewati simpang ke Sekupang, aku menelpon Tarmizi. Ia memintaku datang untuk menghadiri acara Rumah Hitam Batam Berpuisi (RBB) seusai salat isya, malamnya. Acara itu ikon Rumah Hitam, sebulan sekali. Wes ingin pulang, dan tidak bisa keluar malam. Kami pun terus melaju ke Nagoya, tempat bermalam.
Aku menelpon adik dari suami kemanakanku, Nasir. Namanya Teungku Hamka. Ia mengajar anak-anak mengaji pada sore dan malam di rumahnya. Ada sekira lima puluh orang muridnya. Ternyata, tempat tinggalnya dan tempat kerjanya dekat dengan tempat aku menginap. Kami pun menjumpainya di Pasar Pagi, Simpang Jodoh. Setelah berbicara sekian lama. Aku menyebutkan untuk ke Sekupang pada malamnya. Dan langsung, Teungku Hamka menawarkan diri mengantarnya, begitu mendengar Wes tidak sempat karena harus menjenguk kawannya yang sakit.
Setelah magrib, kami pun ke Sekupang. Angin malam dari Nagoya ke Sekupang terasa. Melewati jalan yang sama hari dan malam membuat kita mengingat apa yang ada di sekelilingnya. Batam adalah kota yang dibangun untuk menyeimbangkan Singapore. Dekorasi kotanya lebih mirip Singapore daripada Jakarta atau Medan. Pulau kecil ini dijadikan pulau industri dengan segala macam budaya asing turut masuk. Namun, masyarakat Melayu yang semuanya muslim sebagai mayoritas di sana bersikukuh mempertahankan budayanya. Salah satunya dilakukan oleh Tarmizi Rumah Hitam.
Sesampai di Rumah Hitam, terlihat panggung puisi didirikan di tepi jalan yang terletak lebih tinggi daripada halaman ruko dekat tempat berkarya Tarmizi dan kawan-kawannya. Tarmizi menyambut kami. Di sana telah ada Isbedy Setiawan ZS dan kafilah dari Lampung.
Aku menikmati dengan seksama setiap pengunjung yang naik membacakan puisi. Puisi Tarmizi tentang perkembangan Batam yang dibacakannya membuatku terharu. Selayang pandang dapat kubayangkan apa yang dirasakan oleh masyarakat di sana tentang perubahan pulau hunian mereka. Isabedy Setiawan ZS naik panggung dengan gaya khasnya. Ini adalah momen langka. Paus sastra Lampung hadir membaca puisi di Rumah Hitam Batam, dan aku ada di sana.
Setelah Isbedy Setiawan ZS membaca puisi, kami minta izin pulang pada presiden Rumah Hitam, Tarmizi. Aku meminta waktunya untuk wawancara. Seharusnya hari ini, tetapi ia ada tamu penting dan ada acara RBB.
“Selepas pekan ini, besok aku ke Tanjung Pinang (ibukota propinsi Kepulauan Rian –Kepri),” kata Tarmizi.
Tarmizi adalah satu dari dua narahubung utama dalam penelitianku ini, sebagai seniman dan budayawan di Batam. Satu lagi pengusaha kapal orang Aceh yang di Batam. Kemudian kutahu ia ternyata ketua Masyarakat Aceh di Batam, Teuku Hamzah. Ia juga anggota DPRD Batam. Beberapa bulan lalu, seorang kawanku mengatakan, ia punya pakcik di Batam yang punya kapal. Ternyata memang dia, cuma satu orang.
Selain mereka berdua, aku harus menemui Kepala Dinas Pendidikan dan kebudayaan (Disdik) Batam. Aku diminta oleh pihak panitia dari Komite Buku Nasional Kemendikbud untuk mengadakan pertemuan dengan guru bahasa Indonesia di Batam. Mereka juga mengeluarkan surat untuk kubawa ke disdik Batam. Namun, menjumpai kadisdik Batam adalah setelah menjumpai dan mewawancarai Tarmizi dan Teuku Hamzah.
Sebelum berangkat balik ke tempat menginap, aku menemui anggota Rumah Hitam untuk membeli buku puisi Isbedy Setiawan ZS, Kepada Para Toewan, yang tadinya kudengar disebutkan oleh pemandu acara.[]
Thayeb Loh Angen, penulis novel Aceh 2025, jurnalis di portalsatu.com/, dan aktivis kebudayaan di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh-Turki), mengikuti Residensi Penulis Indonesia 2018 dari Komite Buku Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, tujuan Batam, selama dua bulan. Penelitiannya tentang perkembangan sosial budaya masyarakat Aceh dan penduduk asli dan lainnya di Batam, sebagai pulau industri yang bebatasan dengan Singapore. Pihak BPNB (Balai Pelestarian Nilai Budaya) Aceh turut membantu, juga beberapa orang secara pribadi, di antaranya Zahraini, Yulianda, Razali Ismail, Muharuddin, Zul Anshary, Firman Saputra, dan handai taulan lainnya.


