Oleh Taufik Sentana*
Berpikir dan menggunakan nalar serta menemukan makna baru untuk diterapkan dalam kehidupan pribadi dan kolektif merupakan tugas ideal seorang manusia. Dalam batasan ini ada sebagian yang terjebak pada romantisme logika semata, hingga menakar semua dengan akal.
Di forum yang kecil ini penulis menggunakan definisi di atas yang sejalan dengan batasan wahyu. Dalam arti memanfaatkan akal untuk membuka pintu keyakinan terhadap kemurnian ajaran yang dibawa para Nabi. Hingga tergambar harapan tertinggi capaian manusia, baik sebagai khalifah fil ardh sekaligus hamba yang khusu' mengabdi.
Sebagai seorang Nabi dengan misi rahmatan lil'alamin, banyak sisi dari Nabi Muhammad SAW., yang mengandung panduan hidup secara lengkap. Tidak ada sedikit pun yang terlewatkan dari perjalanan hidup Beliau, kecuali di dalamnya ada manfaat bagi umat dan kemanusiaan.
Kita bisa sedikit menilik ke aktivitas Nabi Muhammad SAW., saat berinteraksi bersama sahabat-sahabatnya. Dalam hal ini adalah interaksi yang bersifat intelektual, suatu pendekatan kognitivisme menurut pendidikan modern. Termasuk juga dalam ranah ini adalah sikap spiritualitas, di mana ilmuwan barat menyebutnya sebagai “titik Tuhan”: adanya rasa bertuhan (mengakui kekuatan) di luar diri manusia.
Nabi Muhammad SAW., saat berinteraksi dengan para sahabatnya, bila ditinjau dari sudut kognitivisme di atas, justru telah melampaui apa yang dicapai oleh ilmuwan modern bidang pendidikan.
Beliau tidak hanya mengajak dan merangsang pemikiran untuk hal yang konkret semata, tapi juga membawa pemikiran itu ke alam akhir dan hadirat Ilahi.
Praktik ala Nabi
Inilah yang penulis sebut sebagai seni berpikir ala Nabi. Suatu kegiatan berpikir, yang di masa kurnas (kurikulum nasional) K 13, kegiatan ini disebut dengan HOTS (High Order Thinking Skill), yang maksudnya sangat sejalan dengan metode berpikir optimal yang Nabi praktikkan, dengan sedikit perbedaan di beberapa sisi saja.
Beberapa contoh berikut kiranya mendekatkan pada model berpikir tadi, di antaranya:
Pertama, selalu menggunakan konteks yang realistis dan konkret untuk menuju ke makna yang utama. Ketika menyampaikan tentang keutamaan shalat lima waktu, Nabi Muhammad menggunakan kalimat “sungai yang mengalir di depan rumahmu yang dengannya engkau membersihkan diri”.
Kedua, media ungkap yang hidup. Ketika menunjukkan betapa sibuk dan terbatasnya waktu manusia, Sang Nabi menggambar kotak persegi di tanah, lalu ia menarik garis lurus dari dalam kotak hingga ke sisi luarnya. Kemudian di antara garis itu ia sisipkan garis melintang. Setelah sahabatnya terfokus barulah ia jelaskan bahwa kotak persegi itu sebagai ajal yang mengintai manusia. Garis lurus yang melebihi kotak sebagai angan dan cita manusia yang melampaui usianya, dan garis melintang itu bagaikan hambatan yang akan selalu ditemui sepanjang hidup.
Ketiga, mengajak berpikir secara langsung. “Akan datang ke hadapan kalian seorang ahli surga,” beliau ucapkan kalimat ini hingga tiga kali dalam hari yang berbeda, sedang sahabat yang dimaksud bukanlah sahabat yang utama.
Pada waktu lain, Sang Nabi selalu berujar, dengan rangsangan pertanyaan yang diawali dari kalimat “Maukah aku tunjukkan…?” Atau, “Tahukah kalian apa yang dimaksud dengan….” dan seterusnya dengan rangkaian kalimat yang mendorong audiens, para sahabatnya untuk bernalar secara bertahap dan membangun pemahamannya sendiri (pendidikan modern menyebutnya, konstruktivisme).
Keempat, selalu mengarahkan ke keyakinan yang sakral. Saat Beliau bertanya tentang siapakah orang yang paling bangkerut/pailit, Ia mengarahkan jawaban sahabat ke alam mahsyar saat amalan kebaikan seseorang diberikan ke orang lain karena dosa zalim/ghibah, hingga habis kebaikannya dan ia mesti menanggung dosa orang lain untuk mengganjar perbuatannya tersebut, itulah yang sebenar-benarnya bangkrut, jelas Sang Nabi kepada para sahabat.
Kelima, selalu memberikan perhatian kepada orang lemah, anak-anak kecil dan hal-hal kecil lainnya untuk memberikan motivasi. Nabi Muhammad pernah mencium tangan seorang sahabat yang tangannya kasar karena bekerja, “Inilah tangan yang dirindukan surga,” Sabdanya, dan alangkah indah lafaz nabawi itu.
Demikian sekelumit bentuk seni berpikir tingkat tinggi ala Nabi Muhammad yang menjadi penanda bahwa ia memang benar seorang Nabi dan segala hal yang berkenaan dengannya adalah wahyu dan Ilham dari Rabb semesta, Allah SWT.
Beruntunglah kita yang menjadi umatnya dan semoga shalawat dan salam selau tercurah untuk Beliau hingga akhir masa (Allahumma Shalli wasallim alaih.…)[]
*Taufik Sentana. Guru di MTs Harapan Bangsa dan Anggota Pengembang SMPIT Teuku Umar. Praktisi Pendidikan Islam. Bergiat di Ikatan Dai Indonesia.







