KEHIDUPAN ini merupakan sebuah perjuangan sebelum maut menjemput. Fenomena kehidupan tidak terlepas dari sedih, senang, tertawa dan menagis, serta aneka ragam lainnya yang kerap menghiasi kehidupan manusia sebagai khalifah dan makhluk sosial di muka bumi ini.
Kebahagian itu sering diekspresikan dengan senyuman dan tertawa. Fenomena tertawa sangat unik dan penuh misteri. Sosok tertawa boleh dikatakan sebagai obat yang paling murah bahkan meriah tanpa harus mengeluarkan selembar rupiahpun.
Menurut dr. Agus Ali Fauzi, PGD Pall, Med (ECU), the power of tertawa memang sangat pantas dan layak disebut penawar dan obat the number one. Benarkah demikian? Membuktikan analisa tersebut dapat kita telusuri lewat kajian para ilmuwan menyebutkan bahwa tertawa mampu merangsang otak untuk menghasilkan hormon-hormon tertentu, yang pada akhirnya memicu pelepasan endorfin. Endorfin merupakan asam amino di dalam tubuh yang bekerja mengurangkan rasa sakit. Semacam morfin alami.
Sebenarnya bukan tertawa saja, tersenyum pun punya kesan yang sama positif, kata lelaki yang sehari-hari bertugas sebagai dokter itu.
Bukan hanya tertawa atau senyuman lugas tulus dan ikhlas saja berperan demikian, bahkan senyum pura-pura pun punya kesan yang sama positifnya. Benarkah demikian? Saat ketika kita tersenyum, sekitar 15 hingga 17 otot di wajah menjadi rileks. Jika itu terjadi, peredaran darah menjadi lebih lancar. Otomatis pengedaran oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh menjadi lebih baik.
Mereka yang rajin senyum, biasanya mempunyai kadar endorfin yang tinggi. Makanya, mereka lebih bahagia, kata Agus Ali.
Para ilmuwan dunia yang mengkaji tentang senyum salah satunya adalah Patch Adam, MD bahkan dapat disebut beliau adalah sang perintisnya. Dia seorang doktor AS yang memproklamirkan dengan the power gerakan senyum dan tertawa sebagai salah satu cara menyembuhkan penyakit.
Dalam perspektif beliau, jika seseorang tersenyum, otaknya mengeluarkan serotonin yang berfungsi meningkatkan kekebalan tubuh. Kalau seseorang sedang sedih, dan kemudian tersenyum, maka zat otaknya akan tetap menghasilkan zat-zat yang meningkatkan kekebalan tubuh.
Kesan lain, senyum meringankan keadaan psikologisnya. Jadi senyum adalah antibody, atau kekebalan tubuh, yang paling spektakuler. Oleh itu, jangan sia-siakan, kata Adams.
Dalam Islam senyum juga dinilai sebagai sedekah, dengan senyuman kita mampu membuat orang lain untuk mengantarkan mereka lega dan hilangnya ketakutan dan kesenangan untuk mereka. Menciptakan kebahagian dan kesenangan untuk orang lain sudah termasuk kedalam nilai ibadah atau sedekah, maka dalam hal ini dari Abu Dzar ra, dia berkata, Rasulullah Saw bersabda, Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim)adalah (bernilai) sedekah bagimu. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
Dalam hadist yang lain Rasulullah SAW bersabda, janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria.” (HR. Muslim)
Tebarlah senyuman di antara kita. Jangan ego dengan sebuah senyuman sebagai obat paling murah dan mujarab di dunia. Kebersamaan dan kebahagian dengan senyuman akan lebih bermakna dan berarti terlebih dengan melepaskan “pakaian” ego yang merupakan pakaian kebesaran Allah SWT yang tidak pantas kita pergunakan. Semoga,[]



