Selepas mengantar anak untuk masuk  asrama di sekolah Alfityan Aceh Besar, saya dan istri bersiap-siap kembali ke kota Banda Aceh. Kami putuskan untuk menggunakan jasa sopir Grab, sebab adik berhalangan menjemput. 

Hanya hitungan 6 menit sesuai yang tertera di aplikasi, mobil yang akan kami tumpangipun tiba. Tentu kami mencocokkan nama dan no platnya terlebih dahulu. Saya dan istripun berangkat dengan membawa sisa sedih karena si kakak akan melalui hari harinya di sekolah ini secara penuh dengan berasrama.

Saya membuka dialog dengan si sopir, berinisial JD. Katanya dia sudah setahun lebih di Grab. Bahkan ia meninggalkan pekerjaan lamanya untuk bisnis jasa ini. Pada awalnya memang lumayan besar pendapan hariannya, bisa sejuta sehari. Dalam tiga hari ia bisa menyamai gajinya sebulan di perusahaan Jaringan Televisi Digital. 

Menurutnya dalam akhir akhir ini pendapatannnya menyusut. Tapi masih potensial menurutnya. Sebab hasil kerjanya setahun lalu telah ia gunakan untuk memiliki mobilnya yang sekarang, dan masih dalam masa pelunasan sisa, semacam alih kredit.

Katanya paling tidak ia bisa mendapatkan Rp 300 ribu perhari, dan itu memadai. Sambil mengemudikan mobilnya ia terus bercerita, sesekali istri saya juga menimpali.

Dari potongan ceritanya saya juga mendengar bahwa pernah ada sopir di luar grab yang bisa menghack status klien saat transaksi pada aplikasi, sehingga ia bisa menuju calon pelanggan padahal dia bukan sopir yang dimaksud. Yang paling tak mengenakkan adalah ada sebagian oknum sopir yang menggunakan jasa ini untuk mencari selingkuhan dengan menyasar gadis kampus. Sopir model ini selalu parkirnya dekat kampus hingga mudah diakses. Lalu bila si penumpang merasa cocok, mereka akhirnya chatingan lalu kopi darat.

Si sopir juga menceritakan bahwa dia hanya lulusan SMA dan tak yakin untuk kuliah karena harus membantu ayahnya yang bekerja sebagai tukang becak. Dalam hal ini tak lupa kami semangati agar ia berkualiah saja sambil bekerja di grab dengan mengambil kuliah di Universitas Terbuka. Rasanya sang ayah tentu bangga dengan usaha anaknya sekarang.

Semoga cerita kecil ini dapat menginspirasi bahwa kita bisa belajar dari siapa saja dan setiap orang bisa terus bergerak maju selama ia memiliki orientasi dan semangat dalam.merealisasikannya.[]

Taufik Sentana
Banyak menulis puisi dan esai sosial. Sangat tertarik pada budaya urban dan masyarakat kota.