BLANGKEJEREN – Dari total 34.000 hektar serai wangi di Gayo Lues, proses penyulingannya masih dilakukan secara alami. Setiap satu hektar membutuhkan menghabiskan satu pohon untuk kayu bakar saat proses penyulingan.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Bupati Gayo Lues, H Said Sani, Selasa, 14 Januari 2020. Karena itu ia meminta agar  masyarakat harus lebih bijak dalam melakukan penebangan pohon, baik untuk kayu bakar serai wangi maupun membuka lahan perkebunan.

“Saat ini perkebunan serai wangi di Gayo Lues berjumlah 34 ribu hektar, jika dalam penyulingan satu hektar serai wangi saja menghabiskan satu batang pohon, maka dalam satu kali musim panen saja sudah 34 ribu batang yang ditebang,” katanya.

Karena itu menghimbau kepada seluruh petani serai wangi agar menghindari penebangan pohon, jikapun menyuling serai wangi dengan manual, maka harus memanfaatkan cabang dan ranting pohon tanpa harus menebang.

“Kita harus bersama-sama mencari solusi agar penyulingan serai wangi bisa menggunakan batu bara ataupun yang lain tanpa menggunakan kayu bakar, supaya hutan kita tetap terjaga, dan masyarakat tetap bisa menikmati hasil dari serai wangi,” jelasnya.

H Said Sani juga mengajak petani serai wangi agar tetap merawat pohon-pohon yang tumbuh liar di perkebunan serai wangi tanpa harus menebangnya, apa lagi membakar perkebunan yang menjadi penyebab matinya anak pohon.[Win Porang]