SUBULUSSALAM Wakil Gubernur Aceh, H. Muzakkir Manaf meminta masyarakat meningkatkan kesiap-siagaan bencana. Hal tersebut dikatakan Wagub yang akrab disapa Mualem di hadapan unsur pemerintah dan tokoh masyarakat dalam silaturrahmi dan temu ramah di Aula Hermes One Hotel, Subulussalam, Jumat, 5 Februari 2016.
Kami harap agar masyarakat senantiasa meningkatkan kesiagaan pada bencana, apalagi melihat cuaca yang akhir-akhir ini tidak menentu, kata Mualem, dikutip dari siaran pers diterima portalsatu.com dari Biro Humas Setda Aceh.
Kepada pemerintah terkait, Mualem meminta untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi kemungkinan bencana. Mualem juga mengajak masyarakat melestarikan alam sebagai warisan anak cucu sekaligus untuk mengantisipasi bencana di masa depan.
Terkait banjir yang terjadi pekanlalu di Subulussalamdan Aceh Singkil, Mualem mengintruksikan dinas terkait untuk menanggulangi hal itu. Kita akan bangun kanal dan normalisasi sungai yang menghubungkan Aceh Tenggara dan Subulussalam, ujarMualem.
Wagub juga meminta semua unsur masyarakat untuk bersatu dalam memajukan Aceh. “Bersama, Insya Allah kita bisa membangun Aceh. Mari perkuat persaudaraan dan kekompakan untuk pembangunan Aceh yang lebih baik.”
Subulussalam dan Singkil disebut sebagai salah satu pintu gerbang masuknya Islam ke Aceh. Di mana daerah inilah yang melahirkan ulama yang mendunia. Namun, kini Aceh umumnya dirasuki oleh ajaran sesat, yaitu Gafatar. Suatu hal yang disayangkan Pemerintah Aceh. Organisasi berkedok sosial itu, kata Mualem, erat kaitannya dengan Millah Abraham, yang beberapa waktu lalu telah dinyatakan sesat oleh MPU Aceh.
“Mari kita lawan upaya pendangkalan akidah ini dengan meningkat kan pembinaan akidah pada diri dan keluarga kita,” kata Muallem.
Ia meminta masyarakat untuk melapor jika melihat praktek keagamaan yang menyimpang. “Jangan main hakim sendiri. Kita Negara hukum,” kata Mualem mengingatkan.
Kepada jajaran pemerintah terkait, Malem meminta untuk mengambil langkah cepat untuk menangani upaya pendangkalan akidah tersebut. “Mudah-mudahan dengan upaya dan kesadaran kita bersama, kita dapat memberantas gerakan musuh-musuh Islam ini,” harapnya.
Secara khusus, Wagub atas nama Pemerintah Aceh meminta pemerintah kabupaten/kota untuk fokus pembangunan selain infrastuktur untuk mengurangi angka kemiskinan di Aceh.
Hal itu ditegaskan Wagub menanggapi keluhan masyarakat atas tingginya angka kemiskinan dan pengangguran di Kota Subulussalam. Tanah di sini tidak ada lagi. Sudah diambil semua oleh orang luar. Ini menjadi bom waktu bagi masyarakat, ujar seorang perwakilan masyarakat.
Menanggapi hal itu, Wagub menyebutkan akan mengevaluasi perizinan perusahaan yang beroperasi di Subulussalam. Kita akan panggil semua pengusaha. Kalau perusahaan tidak ada HGU (Hak Guna Usaha) akan kita tarik. Jika ada yang sudah ada HGU, sesuai dengan instruksi pemerintah 30% plasma untuk masyarakat, kata Wagub disambut tepuk tangan seratusan lebih masyarakat yang hadir.
Dalam diskusi yang dihadiri oleh unsur pemerintah, masyarakat, pemuda dan ulama tersebut, masyarakat juga menyuarakan tentang keinginan mendirikan Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA) dan Aceh Barat Selatan (ABAS).
Menjawab hal itu, Wagub menyebutkan, saat ini, bukanlah ALA-ABAS yang lebih dahulu perlu digenjot. Kita lebih mementingkan butir-butir MoU Helsinki terlebih dahulu. Karena hal itu terkait dengan kesejahteraan rakyat, ujar Mualem.
Wagub meminta masyarakat untuk mendukung program Pemerintah Aceh. Ia menyebutkan, membangun Serambi Mekkah harus dilakukan secara kompak dan bersama-sama. Dengan kebersamaan saja kita belum tentu sejahtera, apalagi jika bercerai-berai, ujar Mualem.[] (Rel)




