SUBULUSSALAM – Di tangan siswa-siswi kreatif SMP Negeri 2 Simpang Kiri, Kota Subulussalam limbah plastik dan kain perca tak lagi menjadi masalah lingkungan, melainkan diubah menjadi kerajinan tangan yang menarik dan fungsional.
Melalui program pembelajaran berbasis lingkungan, para siswa kelas IX berhasil menyulap sampah botol plastik dan kain bekas menjadi kursi dan meja berbahan dasar ecobrick inovasi ramah lingkungan yang kini makin diminati.
Di bawah bimbingan Eman Sagita, guru sekaligus pembina kegiatan tersebut, para siswa diajak untuk berpikir kreatif dalam mengelola limbah.
“Ecobrick ini adalah solusi sederhana tapi berdampak besar. Cukup dengan memadatkan kain perca ke dalam botol plastik bekas hingga padat dan keras, kita sudah punya bahan bangunan alternatif yang murah dan ramah lingkungan,” ujar Eman di SMPN2 Sp Kiri, Senin, 2 Juni 2025.
Proses pembuatannya juga mudah. Dimulai dengan mengumpulkan sisa potongan kain dari penjahit dan botol plastik bekas, lalu dibersihkan dan dikeringkan. Setelah itu, kain perca dimasukkan ke dalam botol hingga penuh dan padat. Botol-botol ini kemudian disusun dan direkatkan menggunakan lem, baik secara vertikal maupun horizontal, membentuk struktur dasar kursi.
Untuk kenyamanan, bagian atas struktur ecobrick dilapisi dengan triplek yang ringan namun kuat. Triplek ini dipotong sesuai ukuran dan direkatkan menggunakan lem kayu atau paku kecil agar hasilnya kokoh dan layak pakai.
Kursi hasil karya siswa ini tidak hanya bisa digunakan di sekolah, tetapi juga cocok ditempatkan di rumah, taman, atau ruang publik lainnya. Selain mengurangi sampah, karya ini menjadi bukti nyata bahwa daur ulang bisa memiliki nilai estetika dan fungsi yang tinggi.
Menariknya, proyek ini juga memiliki makna mendalam bagi para siswa. Eman mengungkapkan bahwa kerajinan ini merupakan bentuk cenderamata atau kenangan dari siswa kelas IX yang akan segera lulus, sebagai bentuk kontribusi mereka kepada sekolah.
“Ini bukan sekadar tugas sekolah. Ini adalah pesan moral dari para siswa kepada masyarakat, bahwa anak muda juga bisa berperan dalam menjaga bumi. Kami ingin menunjukkan bahwa dari sampah pun, kita bisa menciptakan sesuatu yang bermanfaat dan menginspirasi,” ungkap Eman.
Kegiatan ini pun mendapat dukungan penuh dari Kepala Sekolah, Budi Utomo, yang menyambut baik semangat para siswa dan guru dalam menciptakan inovasi berbasis lingkungan.
Dengan semangat daur ulang dan kreativitas tanpa batas, SMP Negeri 2 Simpang Kiri memberikan contoh nyata bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah-langkah kecil bahkan dari sebotol plastik bekas.[](ril)





