Budayawan besar Malaysia, Prof. Siti Zainon Ismail, tampil sebagai pembicara kedua dalam seminar dan MoU untuk pengembangan tentang Ali Hasjmy dan kontribusi intelektualnya untuk Aceh dan Dunia Melayu Raya, di Menara Dewan Bahasa dan Perpustakaan (DBP), Kuala Lumpur, 20 Februari 2019.
Siti Zainon Ismail mengenang awal mula perjumpaan dengan Ali Hasjmy di Gayo. Usianya masih 35 tahun. Dia mengingat sedang menghadiri acara sastra dan kebudayaan. Acara tersebut menghadirkan Mochtar Lubis dan Taufik Ismail. Siti Zainon mengingat dengan lekat-lekat, ada seseorang yang dengan lembut berbicara dengannya dan memintanya pula, selepas Jumat, membaca puisi di pelataran masjid.
Sejak saat itu, hubungan keduanya terjalin, seperti ayah dan anak. Memang, Ali Hasjmy menjadikan Siti Zainon Ismail sebagai anak angkatnya.
Dalam pemaparannya juga, dengan tatapan mata yang dalam, dia mengenang, di tahun 1990, Siti Zainon diberi gelar oleh LAKA, Ali Hasjmy saat itu sebagai ketuanya, sebagai Cut Nyak Fakinah.
“Saya merasa tidak layak. Siapalah saya,” kenangnya.
Akan tetapi, ada kata-kata Ali Hasjmy yang diingatnya, “Ini untuk perkerjaan masa depan”.
Apa yang dipikirkan oleh Hasjmy adalah benar. Siti Zainon mencurahkan hampir sepanjang hidupnya menulis tentang Aceh pada aspek kebudayaan, sastra dan kesenian. Selain itu dia tidak pernah berhenti mendorong ingatan sosial tentang Ali Hasjmy untuk terus di dada generasi muda Aceh, Malaysia dan Nusantara.
Sesi seminar semakin menarik ketika kolega-kolega lama Ali Hasjmy, baik dari guru besar sampai Sastrawan Negara, memberi testimoninya.
Selain itu, pihak Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy juga memberi beberapa keterangan tentang sosok Ali Hasjmy. Yang diwakili oleh salah satunya putranya, Dharma Hasjmy.
Saya sendiri juga menyampaikan beberapa hal tentang Ali Hasjmy. Di antaranya, Hasjmy adalah kepada siapa kita memahami ide tentang keacehan. Tapi kini, dengan perubahan sosial politik, ide Hasjmy mulai kehilangan tempat di ruang publik, namun terus dikaji dalam bingkai akademik.
Saya juga menyampaikan bahwa untuk mengembalikan gagasan Hasjmy seperti sedia kala, baik terhadap kebudayaan, sejarah, ide tentang Aceh dan sebagainya, perlu sokongan dari Malaysia, baik pemikirnya, budayawannya, seniman dan lain-lain.
Acara ini ditutup dengan pembicaraan antara Dewan Bahasa dan Pustaka, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh dan Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy. Ada dua hasilnya, yaitu DBP akan melakukan MoU dengan Pemerintahan Aceh tentang peningkatan budaya literasi. Sedangkan dengan pihak Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy, adanya perjanjian untuk mencetak kembali karya-karya Ali Hasjmy. Untuk cetakan buku yang pertama akan diterbitkan kembali karya Ali Hasjmy berjudul, “Ruba'i Hamzah Fansuri.” Buku ini di tahun 1972 diterbitkan pertama kali juga oleh DBP Malaysia.[]
Penulis: Muhammad Alkaf
Lihat juga: Melihat Koleksi Dokumentasi Melayu hingga Menyimak Paparan Wildan tentang Ali Hasjmy





