LHOKSEUMAWE – Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) mengungkapkan, proyek peningkatan Jalan Ujong Pacu Lhokseumawe bersumber dari APBK tahun 2019 senilai Rp1,1 miliar lebih baru dikerjakan tapi kondisinya sudah rusak, akar masalahnya sejak perencanaan diduga asal jadi. MaTA mendesak DPRK Lhokseumawe meminta pertanggungjawaban pemerintah setempat. Aparat penegak hukum juga diminta mengusut kasus proyek tersebut.
“Sebelum dikerjakan proyek itu, kondisi jalan itu memang sudah lama longsor atau ambles. Selama ini inisiatif dari masyarakat Ujong Pacu, terutama yang memiliki dump truck, menimbun (jalan itu) supaya bisa lewat truk. Dan kondisi itu sempat sekitar dua tahun tidak ada perhatian dari pemerintah,” kata Koordinator MaTA, Alfian, kepada portalsatu.com/ melalui telepon seluler, Rabu, 30 Oktober 2019, malam.
Alfian menyebutkan, dengan kondisi badan jalan sudah ambles sekitar dua tahun, seharusnya Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Lhokseumawe terlebih dahulu mengcek fakta di lapangan secara serius. Dia menilai tidak logis dibangun talut dengan kondisi badan jalan sudah lama ambles. “Seharusnya di perencanaan dibuat pemasangan pelling agar lebih kuat, bukan dibuat talut. Artinya, tidak bisa dianggap longsor biasa karena kondisi itu memang sudah sangat lama”.
“Jadi, akar masalahnya di perencanaan. Sejak tahap perencaaan (proyek itu) kita duga sudah bermasalah. Kita anggap perencanaannya tidak profesional. Kesannya main-main, enggak serius. Seharusnya Dinas PUPR bisa mengajak ahli dari kampus untuk mengecek fakta di lapangan, karena ini bukan longsor biasa, sudah sekitar sudah tahun,” ungkap Alfian.
Alfian pun mempertanyakan langkah apa yang akan dilakukan Pemkot Lhokseumawe melalui Dinas PUPR setelah badan jalan Ujong Pacu itu rusak lagi meski baru dikerjakan beberapa minggu lalu. “Harus segera ada solusi, tidak boleh dibiarkan begitu saja. Karena dari sisi pelayanan publik itu (jalan rusak) sangat terganggu transportasi masyarakat. Sebab jalur itu bukan hanya untuk masyarakat Ujong Pacu, tapi juga untuk warga Nisam, Aceh Utara,” ujarnya.

Di sisi lain, kata Alfian, DPRK Lhokseumawe perlu merespons kasus proyek jalan Ujong Pacu itu secara serius. Bahkan, informasi diterima MaTA, masyarakat melalui aparat gampong setempat sudah melaporkan persoalan jalan rusak itu kepada Ketua DPRK Lhokseumawe.
“DPRK sebagai lembaga pengawasan harus benar-benar serius, perlu memanggil Dinas PUPR, mengapa perencanaan proyek jalan Ujong Pacu seperti itu. Kenapa dibuat talut, padahal kondisi sebelumnya sudah sekitar dua tahun longsor, dan badan jalan itu berpotensi semakin meluas jatuh (ambles). Publik tetap meminta pertanggungjawaban Dinas PUPR,” kata Alfian.
Selain itu, Alfian meminta aparat penegak hukum segera melakukan proses penyelidikan terhadap proyek jalan Ujong Pacu. “Karena kita anggap proyek ini bagian dari kebijakan yang koruptif. Perlu diusut, sehingga kebijakan yang bersifat koruptif terkait pembangunan seperti ini tidak terulang lagi di Kota Lhokseumawe”.
“Artinya, dinas jangan buat perencanaan asal-asalan, kemudian dilakukan tender, tapi akhirnya negara rugi karena anggaran menjadi sia-sia. Jadi, Pemkot perlu diminta pertanggungjawaban, sehingga kebijakan koruptif ini tidak terjadi di kecamatan atau desa lain di wilayah Lhokseumawe,” tegas Alfian.
Diberitakan sebelumnya, peningkatan badan jalan menghubungkan Gampong Blang Naleung Mameh dengan Gampong Ujong Pacu, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, baru dikerjaan kini kondisinya sudah rusak akibat ambles.
Pantauan portalsatu.com/, Rabu, 30 Oktober 2019, di lokasi jalan tersebut tampak papan informasi dipasang pada salah satu pohon di pinggiran sungai berdekatan dengan titik jalan ambles. Tertulis “Pemerintah Kota Lhokseumawe, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, kegiatan pembangunan jalan (Otsus) Kota Lhokseumawe. Pekerjaan peningkatan Jalan Ujong Pacu, nomor kontrak: 18-KONT/BM/OTSUS-LSM/VIII/2019, tanggal 05 Agustus 2019, nilai kontrak Rp1.148.000.000, sumber dana APBK Lhokseumawe tahun 2019”, dan nama penyedia (rekanan).
Badan jalan tersebut, sebelah timur bersisian dengan pagar Kompleks Perumahan PT PAG, dan arah baratnya terdapat sungai. Pada sisi sungai atau sebelah barat jalan itu sudah dibangun talut. Jalan itu ambles sepanjang sekitar 50 meter. Di tengah badan jalan tepatnya pada lokasi ambles terpasang papan tertulis “Hati-hati ada perbaikan jalan, pelan-pelan”.
Geuchik Gampong Ujong Pacu, Muslem Hasballah, kepada para wartawan, mengatakan, badan jalan itu ambles setelah dikerjakan penimbunan (peningkatan) beberapa minggu lalu. “Pembangunan jalan itu baru sekitar tiga minggu, sekaligus dibuat talut. Akibat amblas (ambles) itu memang agak sulit dilewati, mobil kecil pun kesulitan, apalagi truk, tidak bisa lewat lagi,” katanya.
Menurut dia, beberapa tahun lalu lokasi tersebut juga ambles, tetapi tidak begitu parah. “Ketika sekarang dibangun (peningkatan) jalan tersebut, amblas lagi,” ujar Muslem Hasballah.
Sementara itu, saat portalsatu.com/ mendatangi Dinas PUPR Kota Lhokseumawe, Rabu usai waktu Zuhur, untuk mengonfirmasi soal proyek peningkatan Jalan Ujong Pacu itu, kepala dinas maupun kepala bidang sarana dan prasarana, tidak berada di kantornya. Hal itu berdasarkan keterangan beberapa staf Dinas PUPR.(Baca: Baru Dikerjakan Jalan Ujong Pacu Lhokseumawe Sudah Rusak)[]






