LHOKSEUMAWE Sosiolog Unimal, Dr. Nirzalin, MSi., menilai basis emosional pemilih Aceh saat ini bertumpu pada mantan kombatan GAM dan politik dayah.
Mantan kombatan dan politik dayah saat ini menjadi modal utama bagi para calon memenangkan dirinya pada Pilkada Aceh mendatang, kata Nirzalin menjawab portalsatu.com di Lhokseumawe, Sabtu 9 Januari 2016.
Nirzalin menyebut dua komponen itu sangat besar peranannya dalam memenangkan satu calon. Namun, kata dia, ada juga kelompok lainnya yang sering disebut kaum minoritas seperti intelektual kampus dan mahasiswa.
Menurut dia, hadirnya kaum minoritas ini pastinya tidak bisa memberikan peranan besar, apalagi sekarang sistem demokrasi langsung sifatnya one man one vote.
Nirzalin menilai partisipasi masyarakat tergantung pada mobilisasi yang dilakukan mesin politik para calon/kandidat. Saya lihat dalam konteks general masyarakat itu bergerak karena dimobilisasi bukan keinginan sendiri, katanya.
Namun, Nirzalin melanjutkan, hal lain timbul pada masyarakat kota, mereka akan mengkalkulasi apakah calon itu berpotensi menang atau tidak. Jika tidak, mereka malah memilih golput.
Pemilih mayoritasnya ada pada kalangan akar rumput yang dimobilisasi. Jika berbicara mobilisasi pasti kaitannya dengan mesin politik. Kalau mesin politiknya efektif maka pemilih akan ramai dan juga sebaliknya,” ujar Nirzalin.
Pilkada ke depan, Nirzalin berharap berjalan secara baik, bersih, efektif serta tanpa intimidasi. “Terpilihnya kepemimpinan yang baik semoga bisa menyatukan semua elemen, bukan untuk pribadi maupun suatu kelompok,” katanya.
Kepada para bakal calon Gubernur Aceh yang telah muncul, Nirzalin menyarankan sebaiknya membuka ruang-ruang kompromi politik.
Bisa saja nanti di antara mereka tidak harus sama-sama menjadi nomor satu, tapi ada suatu negosiasi politik, sehingga menjadi elok dan elegan. Tanpa harus egois maju, namun jika menang berdampak buruk bagi masyarakat sendiri,” ujar Nirzalin.[](tyb)

