Jakarta – Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Letjen TNI (Purn) Sutiyoso menjanjikan amnesti kepada Nurdin bin Ismail alias Din Minimi dan pengikutnya saat mereka menyerah, Senin (28/12) lalu.

Presiden Joko Widodo pun belakangan menyatakan pemerintah akan memproses permohonan amnesti untuk pentolan kelompok bersenjata di Aceh itu yang sebenarnya mempunyai 14 catatan kejahatan di kantor polisi mulai dari pembunuhan, perampokan, dan pemerasan dengan senjata api.

Akibatnya Kapolri Jenderal Badrodin Haiti pun “tak berdaya” dan sejauh ini diam tanpa mengambil langkah apapun pada Din Minimi cs kecuali hanya berkata bila sebenarnya kendati menyerah bukan berarti yang bersangkutan tidak diproses hukum.

Lalu bagaimana jika pentolan Mujahidin Indonesia Timur Santoso dan anak buahnya juga menyerah turun dari gunung sama seperti Din Minimi?

Menjawab kondisi tersebut Badrodin menjawab bahwa Santoso takkan mendapatkan amnesti. “Secara hukum Santoso tidak bisa (diberi amnesti) karena harus ada kaitannya dengan persengketaan politik. Kalau krimimal biasa tidak bisa, nanti semuanya bisa minta amnesti,” kata Badrodin, Sabtu (2/1).

Saat ditanya bukankah Santoso juga lahir buntut peristiwa konflik di Poso sebagaimana Din Minimi yang lahir karena ekses konflik antara GAM dengan pemerintah baik langsung maupun tidak langsung, Badrodin menjawab tegas,” Santoso bukan peristiwa politik.”

Kelompok Santoso memang tengah diburu polisi dalam sejumlah operasi. Seperti operasi Camar Maleo I, II, III dan IV sepanjang 2015. Operasi jilid IV itu akan berakhir 9 Januari 2016.

Selama masa operasi tersebut, polisi hanya mampu menangkap 24 orang kaki tangan Santoso yang diduga terlibat aksi teror. Tujuh orang di antaranya tewas – termasuk Daeng Koro – dan 17 lainnya sedang menjalani proses hukum.

Disisi lain, selama operasi itu juga ada dua polisi dan satu tentara yang tewas dan empat polisi luka-luka. Sudah 10 tahun ini Santoso diburu dan selama itu pula dia lolos.

Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti kegiatan terorisme berupa senjata api, amunisi, bom rakitan, bahan pembuat bom, dan pakaian.

Santoso dan sekitar 31 anak buahnya, yang diyakini telah dibaiat menjadi anggota ISIS, masih bersembunyi di hutan-hutan sekitar Poso Pesisir sampai wilayah Sausu, Kabupaten Parigi dan Napu, Kabupaten Poso.

Penuntasan kelompok Santoso sebenarnya juga masuk dalam program kerja 100 hari Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Namun apa lacur hingga kini Santoso masih licin bagai belut dan belum juga tertangkap.[] Sumber: beritasatu.com