BANDA ACEH – Kapal Ship Sailing (SS) Opan adalah kapal jamaah haji Aceh era Kesultanan Aceh. Kapal ini sudah ada sebelum Belanda menduduki Sabang, semasa Aceh masih kerja sama dengan Turki.
Demikian kata Kurator Museum Sabang, T. Mahliyuni saat menyiapkan bahan-bahan sejarah untuk PKA 7 di stan sejarah Sabang, di Gedung Galeri Sejarah Aceh Lantai III Kompleks Museum Aceh, Sabtu, 4 Agustus 2018.
“MS Opan adalah salah satu kapal pengumpul jamaah haji yang berlabuh di Sabang, di Labuhan Haji, Aceh Selatan, Meulaboh, Aceh Jaya. Bertumpunya di Pulo Raya, dan di Banda Aceh ada dua yaitu di Bitay dan Krueng Raya,” kata Mahliyuni.
Wahliyuni mengatakan, setelah melewati beberapa proses pengurusan, sebelum diberangkatkan ke Jeddah, terlebih dahulu para jamaah caon haji dikarantina di Sabang. Dari Sabang baru ke Jeddah dengan lama perjalanan laut yang harus ditempuh satu bulan. Satu bulan di tanah Arab melaksanakan haji dan sebagainya, dan satu bulan perjalanan kembali.
“Maka orang pergi haji dahulu mencapai tiga bulan,” katanya.
Namun, Wahliyuni mengatakan, perjalanan jamaah haji tersebut pernah mendapat gangguan dari Belanda. Mereka mengganggu pelayaran dan menghadang perjalanan jamaah haji Aceh dan kemudian pemerintah Ottoman dan pasukan lain menghadang Belanda di Aceh kemudian Aceh kembali bisa berhaji.
“Seluruh muslim dari nusantara dahulu naik haji melalui Sabang, bahkan Buya Hamka pun ke haji melalui Sabang,” katanya.
Setelah pendudukan Belanda, kata Wahliyuni, mereka mengambil alih penggunaan pelayanan jamaah haji di Sabang. Kemudian oleh PT Arafat yang baru itu, dibuat peraturan, bahwa setiap jamaah harus mengurus sertifikat, lalu para jamaah diberi gelang dengan alasan untuk memudahkan pendataan.
“Dalam satu pengiriman Kapal MS Opan dahulu ada 1200 penumpang. Semuanya 1750 termasuk kru kapal. Kapal layar berbahan bakar batubara itu memiliki tiga cerobong dengan arti juga memiliki tiga mesin dan ketika angin kencang dimatikan satu mesin,” kata Wahliyuni.[]



