Pagi adalah penghubung harapan baru. Harapan tentang segala hal, tentang hidup, pikiran, pengalaman dan rasa batin. Pagi seperti nafas yang harum untuk melampaui semua mimpi dan mengisahkan masa lalu. Seorang mungkin telah melampaui masa pagi, semua bayang masa lalu telah mengendap dan menjadi lapuk, atau masa lalu itu telah berubah menjadi doa di penghujung hari, saat gelap mulai merasuk.

Bersama Fitri, pagi semakin bersolek. Orang orang telah lama menanti dan merindu. Ada rindu yang palsu dan ada rindu yang jujur. Semua rindu itu tumpah di awal pagi, saat semua kita membelah waktu dan perjalanan untuk sampai pada pagi bersama fitri, melewati semua kenangan manis dan pahit, hingga tiba di sebuah kampung halaman atau sekadar berbaur dalam jamaah di Hari 'Id.

Namun Fitri tetap sendiri dan diam. Ia menyembunyikan setiap degup dan harap. Tenggelam dalam cita rasa takbir, tahmid dan tasyakur. Ia meminta kita menoleh ke Ramadan yang menjauh, yang telah ikut membasuh diri ini dari keruh dosa dan alpa. 

Kiranya Fitri bukan semata kemenangan dan keindahan. Fitri memberikan makna baru tentang posisi diri dan fungsi sosial kita di tengah laju peradaban materiil.

Dan esok, kita ingin selalu fitri walau dengan waktu yang berbeda, sambil mengenang kembali kisah ramadan yang syahdu dan khusuk itu.

Taufik Sentana
Peminat prosa dan kajian sosial budaya.