Karya: Taufik Sentana*
Tiada kurasa istimewa
setelah pandemi dan normal baru bermula.
Masing masing kita,
menjadi masing masing saja.
Saling menjaga sendiri
atau sibuk mengeja gejala.
Kita sibuk seperti biasa,
seperti terik matahari kemarin
dengan angin darat
dan kisah kisah yang belum disampaikan.
Lalu seperti hidup kita,
melampaui sore sebentar
menyinggahi segala penat
agar menjadi makna.
Sore di Banda,
aku menggambar peristawa lama,
kisah berabad
pada lembaran Batutah,
atau masa curiga dan benci
yang mesti dirundingkan kemudian
_bahkan dirundingkan sampai saat ini_
Di seberang jalan
suara mulia mengalun,
penghantar sore yang pasti,
menuju kemenangan atau hanya kematian.
Yang memisahkan
antara jejak kemuliaan
dan ketakutan dalam jerat
postmodernisme.[[
*Peminat literasi sosial-budaya.



