SUBULUSSALAM – Pemerintah Kota Subulussalam melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) bersama PT PLN Unit Induk Pembangunan II Medan, Sumatera Utara menandatangi Perjanjian Kerja Sama (PKS) mendukung pembangunan transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV di kawasan Lae Ikan dan Jontor, Kecamatan Penanggalan.
Kepala DLHK Kota Subulussalam, Sahidin melalui Sekretaris Abdul Rahman Ali kepada portalsatu.com, Sabtu, 15 Juni 2019, mengatakan proses penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) telah dilakukan di Hotel Adimulia, Jalan Diponegoro Medan, Sumatera Utara, Senin, 27 Mei lalu.
Turut hadir Wakil Wali Kota Subulussalam, Drs. Salmaza, MAP., dan Sekda Ir. Taufit Hidayat, M.M., menyaksikan penandatangan PKS antara Kepala DLHK Kota Subulussalam, Sahidin dengan General Manager PLN UIP Sumbagut, Octavianus Padudung. Penandatangan ini juga dihadiri pihak Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK) Republik Indonesia.
Kerja sama ini menyangkut pembangunan strategis yang tidak dapat dielakkan dalam rangka pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan jalur transmisi 150 kV Sidikalang-Subulussalam yang melintasi Taman Hutan Raya (Tahura) Lae Kombih di Kota Subulussalam.
Abdul Rahman Ali menyebutkan penandatanganan dalam rangka mendukung beroperasinya Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Sidikalang-Subulussalam serta Gardu Induk (GI) Kota Subulussalam.
Dalam kesempatan itu, kata Abdul Rahman Ali, GM PLN UIP II Medan, Sumatera Utara, Octavianus Padudung, mengatakan bahwa SUTT 150 kV Sidikalang-Subulussalam ini merupakan salah satu proyek strategis nasional menghubungkan sistem interkoneksi untuk mewujudkan tol listrik.
“Membutuhkan waktu 9 tahun untuk pembangunan proyek ini sejak dicanangkan tahun 2010. Memang cukup lama karena banyak terjadi kendala baik teknis maupun non teknis di lapangan berupa sulitnya medan yang umumnya melalui pegunungan,” kata GM PLN UIP II Sumbagut, Octavianus Padudung dalam siaran pers yang dikirim Abdul Rahman Ali kepada portalsatu.com.
“Serta adanya penolakan-penolakan dari masyarakat yang umumnya terkait lintasan jalur maupun besaran nilai kompensasi Right Of Way (ROW),” ujar Octavianus Padudung.
Masih menurut GM PLN UIP II Sumbagut, Octavianus Padudung, setelah melewati proses yang sangat panjang, SUTT 150 kV Sidikalang-Subulussalam sepanjang 110 km dengan jumlah tower sebanyak 153 set akhirnya kini mampunyai energize dan bisa dinikmati.
Maka, dengan beroperasinya GI Subulussalam ini, diharapkan dapat berguna bagi masyarakat Subulussalam dan sekitarnya, termasuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Di sisi lain, PLN juga dapat menghemat hingga Rp 84 miliar per tahun karena PLN akan mematikan PLTD 12 MW di Subulussalam.
“Lewat kerja sama ini, rencana PLN untuk membangun double circuit mulai Juni 2019 bisa terlaksana dengan baik,” ungkap Octavianus Padudung di hadapan Wakil Wali Kota Subulussalam, Salmaza dan Sekda Taufit Hidayat waktu itu.
Sementara, Salmaza dalam kesempatan itu mengatakan Pemerintah Kota Subulussalam sangat mengapresiasi PT PLN UIP II Sumbagut yang terus berusaha memperkuat sistem kelistrikan di seluruh Sumut dan Aceh, khusus di wilayah Kota Subulussalam.
Menurut Salmaza, penandatanganan perjanjian kerja sama ini berpedoman pada UU Nomor 23 Tahun 2014 Pasal 14 dan lampirannya huruf BB, bahwa kewenangan pengelolaan Tahura dalam satu wilayah kabupaten/kota pada pemerintah kabupaten/kota.
Ia menyebutkan pembangunan transmisi SUTT 150 kV ini salah satu proyek strategi nasional berdasarkan Peraturan Presiden RI Nomor 56 Tahun 2018 yang merupakan perubahan kedua tentang percepatan pelaksanaan proyek tersebut.
Karena itu, kata Salmaza sudah menjadi kewajiban pihaknya selaku pimpinan daerah berperan aktif mendukung dan menyukseskan program tersebut, kerena ini juga memberi dampak positif terhadap peningkatan ekonomi masyarakat di Bumi Sada Kata.
“Karena pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan jaringan transmisi SUTT 150 kV Sidikalang-Subulussalam ini akan memberi dampak positif bagi peningkatan pembangunan industri dan ekonomi masyarakat Kota Subulussalam,” ungkapnya.
“Dan tahura sebagai objek wisata ekosistem di Aceh yang merupakan bagian dari paru-paru dunia,” kata Salmaza.[]






