Oleh: Taufik Sentana
Peminat literasi pendidikan Islam

Di zaman yang penuh materialisme dan kemoderenan sekarang, siapakah yang peduli pada sufi dan derajat kewalian?. Atau justeru karena itu ia bisa semakin marak, dibutuhkan sebagai telaga bagi dahaga jiwa.
Peradaban barat mungkin menyebutnya sufisme dan mistisme Islam.

Namun antara sufi dan derajat kewalian memiliki beberapa perbedaan. Disebutkan bahwa ‘sufi’ sebagai sosok pribadi yang telah mencapai akhlak kesufian/tasawuf. Sedang tasawuf sendiri merupakan prosesnya, pembentukan diri, pembersihan jiwa dan perbaikan akhlak.

Adapun kewalian, secara teks ilmiah keislaman, ia lebih autentik dan( lebih) berdasar. Artinya, kata wali dan kewalian atau Auliya, dengan varian maknanya, banyak disebut di Alquran dan hadis. Berbeda dengan sufi dan tasawuf, yang disebut dalam Nash hanya perilaku kesufian, atribut akhlak terpuji dan semacamnya. Maka ada sebutan, bahwa pada awal Islam, sufi itu tanpa nama, namun perilaku akhlak terpuji wujud dalam komunitas muslim.

Dalam masyarakat Islam, persepsi tentang kesufian dan kewalian juga beragam dan seakan liar tanpa ukuran. Setidaknya, para alim ulama kita, menyebutkan bahwa level keduanya ditentukan oleh ketaatan syariat. Dalam kaitan ini, ada sufi falsafi yang hanya berorientasi pada capaian eksotisme personal, ekstase ruhani atau hadrat ilahi. Dan ini dianggap tidak relevan, karena hanya mengandalkan orientasi orientasi saja tanpa amaliyah syar’i yang mu’tabar. Adapun kesufian dengan prinsip syar’i dan amalan yang berdasar, maka ia menjadi bagian dari khazanah Islam.

Adapun kaitannya dengan kewalian, maka tingkat kesufian adalah pijakan dalam mencapai maqam wali. Sering disebut, “yang mengenal wali hanya wali”. Diri kita tidak bisa mengklaim kewalian dalam diri kita. Sebagaimana kita juga tidak bisa menolak klaim kewalian atas seseorang selama orang itu bersandar atas ketaatan syar’i.

Dalam pengertian di atas, sufi dan wali adalah sosok yang berbeda. Namun sering disebut bahwa seorang wali adalah seorang sufi. Sedangkan sufi belum tentu sebagai wali. Mungkin karena kewalian adalah hasil olah jiwa dan badan si sufi. Dari tingkat taubat, taat, tawakkal, ikhlas, ta’abbud dan Ridha dengan sepenuh-penuhnya ridha: FirmanNya
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa” (Al.quran:surat Yunus, 62).[]