BLANGKEJEREN – Randa, salah seorang warga Porang, Senin, 2 Desember 2019 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Porang mengatakan, informasi naiknya debit air sungai tersebut pertama kali disampaikan warga dari mulut ke mulut. Warga yang panik pun langsung melihat sungai dan pulang menyelamatkan keluarganya.
“Tadi sempat ada hewan ternak yang hanyut, airnya terlihat lebih deras dari biasanya, karena itu warga berusaha pergi dari rumah ke TPU mencari perlindungan karena di sana lebih tinggi,” katanya.
Sunggai Jahul yang tiba-tiba meluap juga pernah terjadi pada tahun 1970 silam, rumah dan pemukiman penduduk ikut disapu air beserta lumpur dari Gunung Jahul, bahkan ada warga yang sempat menjadi korban dibawa hanyut aliran sungai tersebut.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gayo Lues, Suhaidi mengatakan, saat ini kondisi air sudah mulai surut. Meski begitu, naik dan tidaknya air Sungai Jahul belum bisa dipastikan lantaran situasi masih dalam keadaan hujan.
“Masyarakat harus tetap waspada mengigat tahun 1970-an dulu juga pernah terjadi banjir bandang lumpur, dan kami dari BPBD sudah menempatkan anggota di daerah hulu sunggai sampai ke hilir untuk melakukan pemantauan,” katanya.
Jika nantinya air tiba-tiba naik lagi, BPBD akan menghubungi kepala desa yang tinggal di dekat sunggai Jahul. Kemudian kepala desa akan mengumumkan di masjid bertanda masyarakat harus segera menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.
“Perlu kami sampaikan, warga yang rumahnya sangat berdekatan dengan Sungai Jahul ini agar untuk sementara berjaga-jaga atau meninggalkan rumah terlebih dahulu, hal ini untuk menghindari terjadinya sesuatu yang tidak kita inginkan,” jelasnya. [Win Porang]



