Karya: Taufik Sentana*
Aku adalah sedahan keindahan
dari seribu limaratus tahun silam.
Lalu El Fatih menjadikanku mulia
dalam penaklukan di abad empat belas.
Sungguh telah berlalu banyak penaklukan, dan aku direbut dalam kerelaan tanpa ada nista.
Hingga tiba masa saat
aku disekap bisu oleh (yang disebut)
Bapak Nasionalis Turki
Aku hanya menjadi seonggok pengertian sejarah tentang kalah dan menang.
Bahkan yang tersisa bagiku hanya kesendirian. Menjadikanku museum saat itu adalah wujud tangan sekular Eropa yang trauma pada Agama.
Kini biarlah niat mulia El Fatih diteruskan
dan biarkan panggilan kemenangan
menyeruak dari dari pucuk menaraku.
Setelah 85 tahun membisu, aku ingin suaraku lebih menggelegar di Timur dan Barat. Lalu ingatlah, siapapun yang datang akan aku sambut dengan baik.[]
*Pegiat literasi sosial-budaya.



