Engkau membaca tubuhku
pada cangkir yang ramping
yang mengendap di dalamnya
seluruh bayang.
Bayang bayang itu seperti masa lalu
atau peristiwa baru
atau cumbu
atau omong kosong penuh lipstik.
Engkau seperti tak pernah berhenti
mencium aromaku: kenikmatan yang tersembunyi dalam kepahitan. Walau tidak memabukkan, aku telah menjadi simbol candu dan budaya, bahkan kapitalisme.
Saat selesai menyeruputku,
pelan dan penuh pertimbangan,
engkau seakan menemukan perspektif berbeda tentang pagi ini
atau senja nanti.[]
Taufik Sentana
Banyak menulis puisi dan esai sosial, sedang menyusun Buku Puisi Password Kebahagiaan.


