Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai
Hari Selasa, 8 Maret 2016 telah berlalu, saya masih saja mengingat momen luar biasa itu menurut saya. Sehari sebelum peristiwa bahagia itu terjadi, tiada pun tanda-tanda yang mengisyaratkan bahwa besok kejadiannya akan begini/shooting musikalisasi puisi karya Hamzah Fansuri yang berjudul Syair Sidang Fakir.
Sebelumnya, pada malam Selasan Discover Studio yang beralamat di simpang lampu merah kantor BPKP, Banda Aceh, menjadi saksi bisu atas apa yang telah terjadi. Kami memulai latihan perdana di studio tersebut untuk tampil di keesokan harinya, bukan untuk lusa atawa beberapa hari di hadapan.
Dengan sekejab mata, saya katakan demikian. Kerana para pemain baik pemusik atawa penyair barulah di waktu itu adanya, sebelum daripada itu tidak ada. Tanzil Woncheng merasa sangat bingung dan beberapa kali menanyakan pertanyaan yang sama pada saya.
Begitu juga dengan jawaban yang sama pula saya menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
Bang, ini acara apa?
Saya tidak tahu. Yang pasti di sini kita akan latihan dan besok shooting di Janthoe, jawab saya. Ia pun masih menyimpan beribu tanda tanya, nampak oleh saya dari raut wajahnya itu.
Kami pun terus latihan, dan pada pukul 03:31 WIB pagi selesai daripada latihan sesi pertama, sekaligus terakhir sebelum shooting itu. Kami pun pulang ke kosan (tempat mengingap) masing-masing, adakala harus beristirahat dan tepat pada pukul 08:00 WIB pagi harus berkumpul lagi di Discover Studio, barulah dari sana menuju ke Jantho.
Alhamdulillah, berhasil juga shooting-nya walau hanya semalam baru latihan, ujar salah satu penyair, Muhrain, sekaligus promotor Kota Puisi tersebut yang ikut serta dalam acara musikalisasi puisi itu.
Ia juga sangat bahagia kerana di dalam prosesi shooting video tersebut berkesempatan hadir dan turut serta dalam shooting film Di Kaki Kota Jantho, seorang komposer musik senior, Moritza Thaher (Momo).
Kanda Momo juga ikut berkomentar bahawa ia suka atas musikalisasi puisi ini dan berharap group ini bisa tampil di acara Kota Puisi yang adanya setiap dua bulan sekali, khususnya di Banda Aceh. Dan umumnya di tempat-tempat lain, kerana Kota Puisi ini sudah menjalar dan berkembang di beberapa kota seperti Langsa, Meulaboh dan Lhokseumawe.
Ini boleh ditampilkan di acara Kota Puisi nantinya, dan saya juga akan bersedia untuk memainkan musik nantinya, ujar pria kelahiran Krueng Panjoe Kutablang sekaligus komposer senior musik tersebut. Dan terlihat ia pun sangat bangga.
Proses shooting gambar pun usai di hari itu, dan malamnya, hari Selasa malam Rabu, kami kembali lagi ke Discover Studio. Sekarang untuk proses rekaman suara ulang. Adalah di Studio tersebut, Mirja Bello, ia juga salah seorang gitaris selain Tanzil Woncheng.
Yang ikut serta memainkan senar-senar di gitarnya menjadi nada yang menghipnotis.
Cut, suara Bang Kini Komedi. Ia yang merekam kami pada malam itu. Dan Alamdulillah segala yang berkaitan dengan kami (Musikalisasi Puisi Syair Sidang Fakir karya Hamzah Fansuri) sukses dipersembahkan dalam film yang berjudul Di Kaki Kota Jantho tersebut.
Film “Di Kaki Kota Janthoe” karya sutradara Thayeb Loh Angen, produksi Discover Studio.[]
Syukri Isa Bluka Teubai, Alumnus Sekolah Hamzah Fansuri (ASHaF)

