BANDA ACEH – Di tepi laut Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, berdiri sebuah kawasan yang menyimpan jejak panjang sejarah Islam di Tanah Rencong. Kompleks Makam Syiah Kuala hari ini menjadi salah satu titik penting wisata religi, sekaligus ruang sunyi yang merekam perjalanan ilmu seorang ulama besar Aceh, Syekh Abdurrauf As-Singkili.
Syekh Abdurrauf dikenal sebagai ulama, sufi, dan pemikir Islam berpengaruh pada abad ke-17 di Kesultanan Aceh Darussalam. Ia lahir di Singkil, Aceh, sebelum menempuh perjalanan panjang menuntut ilmu ke Mekkah dan Madinah selama kurang lebih 19 tahun. Di tanah suci, ia berguru kepada ulama besar seperti Ahmad al-Qushashi dan Ibrahim al-Kurani, sebelum akhirnya kembali ke Aceh membawa khazanah keilmuan Islam yang luas.
Kepulangannya bertepatan dengan masa pemerintahan Sultanah Sri Ratu Taj’ul Alam Safiatuddin. Di lingkungan istana, Syekh Abdurrauf dipercaya menduduki jabatan Qadhi Malikul Adil, sebuah posisi penting dalam sistem hukum kerajaan. Dari peran inilah lahir prinsip yang melekat kuat dalam sejarah Aceh: “Adat bak Poteu Meureuhom, hukom bak Syiah Kuala”, yang menegaskan keseimbangan antara adat dan hukum Islam dalam kehidupan masyarakat.
Di luar peran kenegaraan, Syekh Abdurrauf juga membangun pusat pendidikan Islam di kawasan muara Sungai Aceh. Zawiyah yang ia dirikan menjadi ruang belajar, tempat diskusi keagamaan, sekaligus pusat pembinaan masyarakat. Dari kawasan inilah kemudian berkembang perkampungan yang dikenal sebagai Kuala, yang kini melekat menjadi identitas wilayah Syiah Kuala.
Kompleks makam yang ada saat ini tidak hanya menjadi tempat peristirahatan Syekh Abdurrauf, tetapi juga memuat sejumlah makam tokoh kerajaan dan keluarganya. Lokasinya yang berada di kawasan pesisir menambah kekhasan tersendiri, seolah menghubungkan laut, muara, dan sejarah dalam satu ruang yang sama.
Di tengah perubahan zaman, kawasan ini tetap bertahan sebagai destinasi ziarah dan refleksi sejarah. Kisah yang berkembang di masyarakat juga menyebutkan bahwa kompleks makam ini relatif tetap utuh saat tsunami 26 Desember 2004 menerjang Aceh, menjadikannya salah satu titik yang kerap dikunjungi untuk mengenang sekaligus merenung.

Syiah Kuala hari ini bukan hanya nama tempat, tetapi penanda jejak panjang peradaban ilmu, spiritualitas, dan hukum Islam yang pernah tumbuh kuat di Aceh Darussalam.
Makam Syekh Abdurrauf As-Singkili, Destinasi Wisata Religi di Jantung Banda Aceh
Di kawasan pesisir Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, berdiri sebuah situs bersejarah yang menjadi salah satu tujuan utama wisata religi di Aceh: Kompleks Makam Syekh Abdurrauf As-Singkili.
Tempat ini menjadi pengingat perjalanan panjang seorang ulama besar Nusantara, Syekh Abdurrauf As-Singkili, yang dikenal luas sebagai tokoh penting penyebar ilmu Islam pada abad ke-17 di Kesultanan Aceh Darussalam. Ia lahir di Singkil, Aceh, kemudian menempuh pendidikan agama selama kurang lebih 19 tahun di Mekkah dan Madinah sebelum kembali ke tanah kelahirannya membawa tradisi keilmuan Islam yang kuat.
Setibanya di Aceh, Syekh Abdurrauf dipercaya menduduki jabatan Qadhi Malikul Adil pada masa pemerintahan Sultanah Taj’ul Alam Safiatuddin. Dari peran inilah ia berkontribusi besar dalam penguatan hukum Islam di Aceh, yang kemudian melahirkan ungkapan populer dalam sejarah, “Adat bak Poteu Meureuhom, hukom bak Syiah Kuala.”
Selain berkiprah di lingkungan kerajaan, Syekh Abdurrauf juga mendirikan pusat pendidikan Islam atau zawiyah di kawasan muara Sungai Aceh.
”Dari pusat inilah berkembang aktivitas keilmuan, dakwah, dan pembinaan masyarakat yang menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan Islam di Aceh,” Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, Sabtu, (13/6/2026).
Kini, kompleks makam yang berada di tepi laut tersebut tidak hanya menjadi tempat peristirahatan sang ulama, tetapi juga area ziarah yang ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah. Selain makam Syekh Abdurrauf, di kawasan ini juga terdapat makam sejumlah tokoh dan keluarga Kesultanan Aceh Darussalam.
”Sebagai situs religi, kawasan ini tidak lepas dari nilai historis dan spiritual yang kuat. Banyak peziarah datang untuk mengenang jasa Syekh Abdurrauf sekaligus melihat langsung peninggalan sejarah yang masih terjaga hingga kini,” ungkapnya.
Makam Syiah Kuala juga dikenal luas sebagai simbol warisan intelektual Islam Aceh yang terus hidup di tengah masyarakat. Keberadaannya menjadi penghubung antara sejarah, spiritualitas, dan identitas budaya Aceh yang masih lestari hingga sekarang. [adv]







