BANDA ACEH — Di bawah bayang-bayang megah Masjid Raya Baiturrahman, sebuah lokomotif tua berdiri membisu. Catnya mungkin telah memudar dimakan usia, roda besinya tak lagi berputar, dan peluitnya tak pernah lagi memecah udara Banda Aceh. Namun di balik diamnya, tersimpan kisah panjang tentang perang, peradaban, dan perubahan zaman yang pernah mengubah wajah Aceh.

Banyak orang mengenalnya sebagai Monumen Kereta Api Banda Aceh. Sebagian menjadikannya sekadar latar berfoto atau tempat singgah sesaat. Padahal, lokomotif tua itu adalah serpihan sejarah yang tersisa dari salah satu jaringan kereta api tertua dan terpanjang di Pulau Sumatra, sebuah jalur besi yang dahulu membentang melintasi pesisir utara Aceh hingga perbatasan Sumatra Utara.

Kisahnya bermula pada penghujung abad ke-19, ketika Aceh masih menjadi medan perang yang sengit antara Kesultanan Aceh dan pemerintah kolonial Belanda. Setelah mendarat di Kutaraja pada tahun 1874, Belanda menyadari bahwa kemenangan tidak hanya ditentukan oleh senjata, tetapi juga oleh kemampuan mengirim pasukan dan logistik dengan cepat.

Dari kebutuhan itulah rel-rel besi pertama ditanam di tanah Aceh. Jalur awal menghubungkan Pelabuhan Ulee Lheue dengan pusat Kota Kutaraja. Kereta api menjadi alat strategis untuk mengangkut tentara, amunisi, bahan makanan, hingga perlengkapan perang menuju wilayah-wilayah yang menjadi pusat pertempuran.

Namun sejarah sering kali bergerak melampaui tujuan awalnya. Rel yang dibangun untuk kepentingan perang perlahan berubah menjadi jalur kehidupan. Kereta api mulai mengangkut masyarakat, hasil pertanian, barang dagangan, dan berbagai kebutuhan ekonomi. Stasiun-stasiun tumbuh menjadi pusat aktivitas baru. Kawasan yang sebelumnya terpisah oleh jarak dan medan berat mulai terhubung.

Bagi masyarakat Aceh pada masa itu, kehadiran kereta api merupakan simbol kemajuan. Suara roda besi yang beradu dengan rel menjadi penanda datangnya perubahan. Pedagang dapat menjangkau pasar lebih cepat, hasil bumi lebih mudah dipasarkan, dan mobilitas masyarakat meningkat secara signifikan.

Seiring waktu, jaringan rel terus berkembang. Jalurnya membentang dari Banda Aceh menuju berbagai wilayah di pesisir utara hingga akhirnya tersambung ke Besitang di Sumatra Utara. Ribuan orang menggantungkan aktivitas sehari-hari pada moda transportasi yang saat itu menjadi kebanggaan masyarakat Aceh.

Namun roda sejarah tidak pernah berhenti berputar.

Memasuki era modern, kendaraan bermotor mulai mendominasi jalan-jalan utama. Bus dan truk menawarkan fleksibilitas yang lebih besar. Di sisi lain, lokomotif-lokomotif tua semakin sulit dirawat. Suku cadang menjadi langka, biaya operasional meningkat, sementara jumlah penumpang terus menurun.

Perlahan tetapi pasti, kejayaan kereta api Aceh mulai meredup. Rel-rel yang dahulu ramai dilalui kereta berubah sunyi. Stasiun-stasiun kehilangan aktivitasnya. Hingga akhirnya, layanan kereta api yang pernah menjadi urat nadi transportasi masyarakat Aceh resmi berhenti beroperasi.

Waktu kemudian mengambil alih. Sebagian rel dibongkar, sebagian lainnya tertimbun tanah dan pembangunan kota. Banyak bangunan stasiun berganti fungsi atau bahkan hilang tanpa jejak. Gempa bumi dan tsunami 2004 turut menghapus sebagian peninggalan fisik yang masih tersisa.

Meski demikian, sejarah tidak sepenuhnya lenyap.

Di jantung Kota Banda Aceh, lokomotif tua yang kini menjadi monumen tetap berdiri sebagai pengingat. Ia menjadi penanda bahwa kota ini pernah memiliki denyut transportasi modern yang menghubungkan pelabuhan, pasar, pusat pemerintahan, dan kampung-kampung masyarakat.

Bagi generasi yang tidak pernah menyaksikan kereta api melintas di Aceh, monumen ini mungkin hanya benda tua yang membeku dalam waktu. Namun bagi mereka yang memahami sejarahnya, lokomotif tersebut adalah saksi perjalanan panjang sebuah daerah yang pernah berjuang, berkembang, lalu bertransformasi mengikuti arus zaman.

Ketika matahari mulai tenggelam di balik kubah Masjid Raya Baiturrahman, bayangan lokomotif tua itu memanjang di atas taman kota. Seolah mengingatkan bahwa di tempat ini pernah terdengar deru mesin, peluit keberangkatan, dan langkah-langkah manusia yang membawa harapan menuju masa depan.

Kini rel-rel itu memang telah senyap. Namun kisahnya akan terus hidup, menghubungkan generasi masa kini dengan jejak sejarah Aceh yang tak pernah benar-benar hilang.

Atjeh Tram, Jejak Rel Besi yang Pernah Menghubungkan Aceh dan Sumatra Utara

Jejak kejayaan Kereta Api Aceh atau Atjeh Tram kini diabadikan melalui Monumen Kereta Api Banda Aceh yang berdiri di seberang Masjid Raya Baiturrahman. Monumen tersebut menampilkan lokomotif uap kuno jenis Male BB84 yang menjadi simbol sejarah transportasi rel di Tanah Rencong.

Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, mengatakan jaringan kereta api Aceh mulai dibangun pemerintah kolonial Belanda pada 1874 dengan jalur awal Ulee Lheue–Kutaraja (Banda Aceh). Saat itu, rel kereta digunakan untuk mendukung distribusi logistik dan kepentingan militer selama Perang Aceh.

“Seiring perkembangannya, jalur kereta api membentang hingga sekitar 511 kilometer, menghubungkan Banda Aceh dengan Besitang, Sumatra Utara. Selain menjadi sarana transportasi, kereta api berperan penting dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat di pesisir utara Aceh,” ungkapnya, Sabtu, (13/6/2026).

Setelah kemerdekaan Indonesia, pengelolaan beralih ke Djawatan Kereta Api Atjeh (DKA). Namun, akibat perkembangan transportasi darat dan keterbatasan suku cadang, operasional kereta api terus menurun hingga akhirnya resmi dihentikan pada 1982.

Meski tidak lagi beroperasi, sejumlah peninggalan Atjeh Tram masih dapat ditemukan di berbagai daerah. Monumen Kereta Api Banda Aceh menjadi pengingat bahwa Aceh pernah memiliki salah satu jaringan kereta api terpanjang dan paling penting di Pulau Sumatra. [Adv]