BLANG PIDIE – Calon wakil gubernur Aceh, TA Khalid, menggelar silaturahmi dengan warga Desa Padang, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Abdya, Selasa malam, 27 Desember 2016.
Acara ini dihadiri ribuan masyarakat. Hadir juga calon bupati usungan PA, Erwanto, Ketua KPA Abdya Abdurrahman Ubit serta pengurus PA dan Gerindra.
Dalam orasi politiknya, TA Khalid menjelaskan alasan-alasan mengapa kandidat yang diusung Partai Aceh harus menang di pilkada.
“Bupati dan gubernur nyan perkara politik. Get Hana get Aceh dan Abdya ke depan, tergantung soe yang mampu menyelesaikan perkara politik,” ujar TA Khalid.
Kata TA Khalid, salah satu persoalan politik yang harus diselesaikan adalah perkara MoU Helsinki.
“Na perjanjian MoU Helsinki antara RI dengon GAM yang harus diselesaikan dan dipeuteupat. Nyoe alasan mengapa Partai Aceh harus menang,” ujarnya.
TA Khalid kemudian menceritakan asal muasal persoalan konflik antara Aceh dengan Indonesia.
“Awai Aceh diberi kewenangan sebagai gubernur Sumatra, kemudian dicabut dan rakyat Aceh marah hingga timbul DII TII. Konflik DII/TI melahirkan ikrar Lamreh. Aceh kembali diberikan daerah istimewa,” ujar TA.
Sayangnya, kata TA, daerah istimewa kemudian kembali dicabut dan rakyat Aceh kembali marah hingga akhirnya ada pemberontakan GAM.
“Konflik kemudian melahirkan MoU Helsinki. Ada sejumlah kewenangan yang diberikan. Ini yang harus ditagih oleh Partai Aceh. Kenapa harus Partai Aceh? Karena Partai Aceh adalah kwitansi untuk menagih perjanjian MoU Helsinki,” kata TA Khalid lagi.
Hal ini, katanya, disadari oleh partai nasional di Aceh. Atas dasar pertimbangan ini juga akhirnya Gerindra, PKS, PBB, PPP dan PAN mendukung calon yang diusung PA untuk tingkat Aceh.
“PAN di pusat memberikan surat dukungan untuk Pak Tarmizi. Tapi pengurus Aceh tetap bersama PA. Mereka siap dipecat. Nyan darah Aceh,” ujarnya yang disertai tepuk tangan dari ribuan warga yang hadir.[]




