BANDA ACEH – Puskesmas Samalanga diduga menolak korban bencana gempa lantaran tidak memiliki uang minyak ambulans untuk membawa pasien. Hal ini dialami Ainsyah Abdullah, salah satu pasien korban gempa kategori parah di BPBD Bireuen.
“Padahal jelas-jelas korban yang bernama Ainsyah Abdullah masuk dalam daftar korban parah di BPBD Bireuen. Pihak BPBD Bireuen meminta pasien tersebut untuk diberi tindakan medis, namun pasien tersebut harus pulang lagi karena ditolak oleh pihak puskesmas,” ujar Teuku Ridwan, salah satu kerabat Ainsyah Abdullah, melalui surat elektronik yang ditujukan kepada portalsatu.com, Senin, 19 Desember 2016 malam.
Namun dia bersyukur karena pihak BPBD Bireuen mau kembali ke rumah untuk menjemput Ainsyah, yang tak lain adalah nenek Teuku Ridwan. Pihak BPBD kemudian membawa Ainsyah ke Rumah Sakit dr. Fauziah Bireuen menggunakan Puskesmas Simpang Mamplam.
Sementara Teuku Lukman, cucu Ainsyah yang lain, menyebutkan neneknya sudah sepekan tidak mau dibawa ke rumah sakit. Dia baru menyetujui diboyong ke rumah sakit setelah difasilitasi BPBD Bireuen. “Tapi tahunya seperti ini kejadiannya,” katanya.
Dia menyebutkan pihak medis dan sopir ambulans Puskesmas menolak pasien karena tidak tahu harus ambil uang minyak darimana.
“Padahal kondisi nenek kami sudah sempat drop. Kan kita yang tahu persis perubahan kondisi tubuh keluarga kita, dan itu termasuk darurat, maunya janganlah sepele kali sama pasien,” kata Lukman.[]

