NA yang perle ureung kerja. Sereutoh ribee dikira sijeum. So tem? But jih peumpun rusa batee di Taman Sari (ada yang membutuhkan orang kerja. Seratus ribu dibayar per jam. Siapa mau? Pekerjaannya memberikan umpan untuk patung rusa di Taman Sari).”

Sepenggal cerita di atas merupakan ilustrasi bagaimana sebagian penduduk Kota Banda Aceh dulunya sangat akrab mengenal Taman Sari. Sebagai salah satu taman kota dengan rimbunnya pepohonan, di tempat tersebut juga pernah dibangun dua patung rusa, rumah jamur ala Mario Bross, dan satu unit menara penampung air bersih yang menjulang tinggi. Jauh mundur ke belakang, di taman ini juga pernah dibangun patung porselen yang kemudian banyak warga menyebut tempat ini sebagai Taman Putro Bungsu.

Kini lahan seluas 3000 meter itu bersalin rupa. Tepatnya pascatsunami meluluhlantakkan ibukota. Patung-patung rusa itu kini telah tiada. Begitu pula rumah jamur dan menara air. Apalagi patung porselen yang telah dihancurkan jauh-jauh hari.

Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Pertamanan dan Keindahan Kota justru ingin membuat Taman Sari ini tak hanya menjadi ruang terbuka hijau. Namun, juga sebagai sarana rekreasi baru di pusat kota. Taman Sari ini juga hendak dijadikan landmark kota dengan menambahkan satu bangunan megah: Bustanussalatin.

Pemerintah kota ternyata tidak main-main untuk mengubah wajah Taman Sari menjadi Taman Bustanussalatin. Informasi yang diterima menyebutkan revitalisasi Taman Sari menelan anggaran hingga Rp2 miliar yang bersumber dari dana Otonomi Khusus (Otsus) 2015. Selain itu, revitalisasi Taman Sari juga dianggarkan dalam dana Otsus Tahap II pada 2016 senilai Rp6 miliar, dan tahap III tahun 2017 senilai Rp5,6 miliar. Jika ditotal, revitalisasi Taman Sari di tiga tahun anggaran itu mencapai Rp13 miliar lebih.
Lantas bagaimana rupa wajah baru Taman Sari saat ini?

+++

Senin, 6 Februari 2017. Matahari sudah sedikit rebah ke barat ketika sinarnya jatuh di bahu kiri bangunan itu. Berwarna putih dengan relief Pinto Aceh sedikit berwarna emas, ia gagah menghadap tiang pancang Hotel Aceh dan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Di atas bangunan ini nangkring sekumpulan abjad yang jika dibaca menjadi “Bustanussalatin” di sisi kanan bangunan dan “Kota Banda Aceh” di sisi kirinya.

Di tengah bangunan ini terdapat ruang yang pada hari itu masih dalam pengerjaan. Sementara di sisi kiri bagian dalam bangunan terdapat jalan landai meliuk hingga ke puncak bangunan. 

Di sisi lain bangunan ini, terdapat puluhan anak tangga yang tersusun rapi membelah hamparan rumput hijau. Di puncak bangunan terdapat serupa gapura yang menyajikan pemandangan ibukota, bekas tapak Hotel Aceh dan Masjid Raya Baiturrahman. Saat portalsatu.com bertandang ke taman itu, terlihat ramai warga yang menjadikan gedung baru ini sebagai lokasi berfoto ria.

Sementara di sayap kanan dalam taman juga terlihat keran air bersih berbentuk kendi atau guci. Di tempat itu juga ada beberapa cincin sumur yang masih dalam tahap pengerjaan.

Gedung inilah yang akan digunakan sebagai museum tempat memamerkan foto, informasi sejarah Aceh dan pembangunan ibukota Banda Aceh dari masa ke masa. Meski masih dalam tahap pengerjaan, Pemerintah Kota Banda Aceh menargetkan gedung yang dibangun sejak 2016 lalu ini dapat digunakan tahun 2017.

+++

JIKA merujuk catatan sejarah Aceh, Taman Sari yang kini disebut Bustanussalatin itu merupakan satu kesatuan dengan kompleks Gunongan, Kherkhoff dan Taman Putroe Phang. Taman inilah yang dalam catatan sejarah disebut Taman Ghirah.

Hal ini telah dinukilkan oleh Nuruddin Ar Raniry dalam kitabnya Bustanussalatin, yang kemudian kembali disusun oleh T Iskandar pada 1996. Dalam buku tersebut, Nuruddin telah menceritakan bagaimana bentuk Taman Ghirah yang kini terbelah dalam beberapa kompleks terpisah.

“Kata sahibu’t-tarikh: Pada zaman baginda-lah berbuat suatu bustan, ia-itu kebun, terlalu indah., kira sa-ribu depa luasnya. Maka di-tanami-nya pelbagai bunga-bungaan dan aneka buah-buahan. Di-gelar baginda bustan itu Taman Ghairah. Ada-lah dewala taman itu daripada batu di-rapati, maka di-turap dengan kapor yang amat perseh seperti perak rupa-nya, dan pintu-nya menghadap ka-istana, dan perbuatan pintu-nya itu berkop, di-atas kop itu batu di-perbuat seperti biram berkelopak dan berkemunchakkan daripada sangga pelinggam, terlalu gemerlap sinar-nya berkerlapan rupa-nya, bergelar Pintu Biram Indera Bangsa. Dan ada pada samatengah taman itu su-ngai bernama Darul-‘Ishki berturap dengan batu, terlalu jerneh ayer-nya, lagi amat sejok, barang siapa meminum dia sihat-lah tuboh-nya. Dan ada-lah terbit mata ayer itu daripada pehak raaghib di-bawah Gunong Jabalu’l-A’la, keluarnya daripada batu hitam/itu,” tulis Nuruddin dalam Bustanussalatin.

Sementara seorang sejarawan Indonesia, Raden Dr. Hoesein Djajadiningrat dalam karyanya De Stichting Van Het “Gunongan” Geheeten Monument Te Koetaradja (pembangunan monumen yang dinamakan “Gunongan” di Kutaraja) yang dimuat dalam majalah TBG, 57 (1916), menyebutkan, menurut tradisi lisan seorang raja dari Kerajaan Aceh telah memerintahkan bawahannya (utoih-utoih–dalam bahasa Aceh) untuk membuat sebuah gunung buatan yang dikelilingi sebuah taman untuk menyenangi permaisurinya, yang berasal dari sebuah tempat jauh. Permaisuri raja itu selalu merindukan kampung halamannya yang sarat dengan gunung-gunung.

Raja yang memerintah saat itu–dalam penceritaan secara lisan–adalah Sultan Iskandar Muda, yang memerintah Kerajaan Aceh dari tahun 1607-1636. Gunongan itu dibuat untuk menyenangkan permintaan permaisurinya yang berasal dari Pahang dan populer dengan sebutan Putroe Phang atau Putri Pahang. 

Dalam pengisahan secara turun temurun, Hoesein Djajadiningrat mengatakan, sultan meminta penduduk memberikan saboh cilet (satu colekan) kapur untuk mewarnai bangunan Gunongan itu.

Apa yang disebut Husein tersebut bertolakbelakang dengan kisah yang ditulis Nuruddin Ar-Raniry. Dalam kitab Bustanussalatin Bab XIII, Nuruddin meriwayatkan, yang mendirikan Gunongan tersebut adalah Sultan Iskandar Thani (1636-1641). Dalam kitab tersebut juga dijelaskan mengenai pembangunan sebuah taman yang disebut dengan Taman Ghairah oleh Sultan Aceh.

“Shahdan adalah pertemuan dewala Taman Ghairah itu yang pada Sungai Daru’l-Ishki itu, dua buah jambangan, bergelar Rambut Gemalai. Maka kedua belah tebing Sungai Daru’l ‘Ishki itu di-turap-nya dengan batu panchawarna, bergelar Tebing Sangga Saffa. Dan adalah kiri kanan tebing sungai arah ka-hulu itu dua buah tangga batu hitam di-ikat-nya dengan tembaga semburan seperti emas rupa-nya. Maka ada-lah di-sisi tangga arah ka-kanan itu suatu batu me-ngampar, bergelar Tanjong Indera Bangsa. Di-atas-nya suatu balai dulapan sagi, seperti peterana rupa-nya. Sana-lah hadharat Yang Mahamulia semayam mengail. Dan di-sisi-nya itu sa-pohon buraksa terlalu rampak, rupa-nya seperti payong hijau. Dan ada-lah sama tengah Sungai Daru’l-‘Ishki itu sa-buah pulau bergelar Pulau Sangga Marmar. Di-kepala pulau itu sabuah batu mengampar, perusahan-nya seperti tembus, bergelar Banar Nila Warna. Dan ada-lah keliling pulau itu karang berbagai warna-nya, bergelar Karang Panchalogam. Di-atas Pulau Sanggar Marmar itu suatu pasu, ia-itu permandian, bergelar Sangga Sumak. Dan ada-lah isi-nya ayer mawar yazdi yang amat merebak bau-nya, tutup-nya daripada perak, dan kelah-nya daripada perak, dan charak-nya daripada fidhah yang abyadh. Dan ada-lah kersek pulau terlalu elok rupa-nya, puteh seperti kapor barus.”

Berdasarkan teks dari kitab tersebut kiranya dapat diketahui pada dasarnya bangunan Gunongan itu berdiri dengan tinggi 9,5 meter, menggambarkan sebuah bunga yang dibangun dalam tiga tingkat. Tingkat pertama terletak di atas tanah dan tingkat tertinggi bermahkota sebuah tiang berdiri di pusat bangunan. Keseluruhan bentuk Gunongan adalah oktagonal (bersegi delapan). Serambi selatan merupakan lorong masuk yang pendek, tertutup pintu gerbang yang penyangganya sampai ke dalam gunung.

Peterana batu berukir berupa kursi bulat berbentuk kelopak bunga yang sedang mekar dengan lubang cekung di bagian tengah. Kursi batu ini berdiameter 1 m dengan arah hadap ke utara dan mempunyai tinggi sekitar 50 cm. Sekeliling peterana batu berukir berhiaskan arabesque berbentuk motif atau jaring jala.

Peterana batu berukir berfungsi sebagai tahta tempat penobatan sultan. Belum diketahui dengan pasti nama-nama sultan yang pernah dinobatkan di atas peterana batu berukir tersebut. Bustanussalatin menyebutkan ada dua buah batu peterana, yaitu peterana batu berukir (kembang lela masyhadi) dan peterana batu warna nilam (kembang seroja). Namun, yang masih dapat disaksikan hingga saat ini adalah peterana batu berukir kembang lela masyhadi yang terletak bersebelahan dengan Gunongan dan berada di sisi sungai.

Dalam kompleks Gunongan tersebut juga dikatakan terdapat Kandang Baginda. Kandang Baginda ini merupakan sebuah lokasi pemakaman keluarga Sultan Kerajaan Aceh, di antaranya makam Sultan Iskandar Tsani (1636-1641 M) sebagai menantu Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) dan istri, Sulthanah Tajul Alam (1641-1670).

Bangunan kandang berupa teras dengan tinggi 2 m dikelilingi oleh tembok dengan ketebalan 45 centimeter dan lebar 18 meter. Bangunan ini dibuat dari bahan bata berspesi kapur serta berdenah persegi empat dengan pintu masuk di sisi selatan.

Areal pemakaman terletak di tengah lahan yang ditinggikan. Konon, lahan yang ditinggikan pernah dilindungi oleh sebuah bangunan pelindung. Pagar keliling Kandang mempunyai profil berbentuk tempat sirih dengan tinggi 4 meter.

Pagar ini diperindah dengan beragam ukiran berbentuk nakas, selimpat (segi empat), temboga (seperti hiasan tembaga). Mega arak-arakan (awan mendung) dan dewala (hiasan serumpun bunga dengan kelopak yang runcing dan bintang–seperti teratai), merupakan hiasan. Pada kolom tembok keliling berupa arabesque berbentuk pola suluran mengikuti bentuk segi empat.

Mega arak-arakan yaitu hiasan arabesque berupa awan mendung yang dibentuk dari suluran sebagai hiasan sudut pada bingkai dinding. Dewamala merupakan hiasan yang berbentuk menara-menara kecil berjumlah 12 buah di atas tembok keliling terutama di bagian sudut, berbentuk bunga dengan kelopak daunnya yang runcing menguncup. Menurut sumber bangunan ini dibuat oleh orang Turki atas perintah Sultan.

Di sisi barat Taman Ghairah (Gunongan) terdapat Medan Khairani yang merupakan sebuah padang luas dan diisi dengan pasir dan kerikil, dikenal dengan nama kersik batu pelinggam. Sebagian besar lahannya kini digunakan sebagai Kherkoff. Kompleks makam ini digunakan untuk menguburkan prajurit Belanda yang gugur dalam Perang Aceh (1873-1942).

Dalam Taman Ghairah juga dibangun lima unit balai dengan halaman pada tiap-tiap balai beserta teknik pembangunan dan kelengkapan ragam hiasnya. Balai merupakan bangunan panggung terbuka yang dibangun dari kayu dengan fungsi yang berbeda-beda.

Balai-balai tersebut antara lain Balai Kambang yang berfungsi sebagai tempat peristirahatan. Kemudian Balai Gading yang berfungsi sebagai pelaksanaan kenduri, Balai Rekaan Cina tempat peristirahatan yang dibangun oleh ahli bangunan dari Cina, Balai Keemasan tempat peristirahatan yang dilengkapi dengan pagar keliling dari pasir dan Balai Kembang Caya. Sayangnya, balai-balai yang disebutkan dalam kitab Bustanussalatin saat ini sudah tidak ada yang tersisa.

Bangunan lain yang terdapat dalam Taman Ghairah ini adalah Pinto Khop (Pintu Biram Indrabangsa) yang secara bebas dapat diartikan dengan pintu mutiara keindraan atau kedewaan/raja-raja. Di dalam Busatanussalatin disebut dengan Dewala.

Gerbang yang lebih dikenal dengan sebutan Pinto Khop ini merupakan pintu penghubung antara istana dengan Taman Ghairah. Pintu ini berukuran panjang 2 m, lebar 2 m dan tinggi 3 m. Pinto Khop ini terletak pada sebuah lembah sungai Darul Isyki (Krueng Daroy).

Dugaan sementara, tempat ini merupakan tebing yang disebutkan dalam Bustanul Salatin dan bersebelahan dengan sungai tersebut. Dengan adanya perombakan pada tata kota Banda Aceh dikemudian hari, Pinto Khop akhirnya tidak berada lagi dalam satu kompleks dengan Taman Sari Gunongan. Taman ini juga telah jauh berubah dari arsitektur semula seperti yang digambarkan dalam kitab Bustanussalatin.

Bangunan Pinto Khop dibuat dari bahan kapur dengan rongga sebagai pintu dan langit-langit berbentuk busur untuk dilalui dengan arah timur dan barat. Bagian atas pintu masuk berhiaskan dua tangkai daun yang disilang, sehingga menimbulkan fantasi (efek) figur wajah dengan mata dan hidung serta rongga pintu sebagai mulut.

Atap bangunan yang bertingkat tiga dihiasi dengan berbagai hiasan dalam bingkai-bingkai antara lain; biram berkelopak (mutiara di dalam kelopak bunga seperti yang ditemukan juga pada bangunan Gunongan) dan bagian puncak dihiasi dengan sangga pelinggam (mahkota berupa topi dengan bagian puncak meruncing).

Bagian atap merupakan pelana dengan modifikasi di empat sisi dan berlapis tiga. Pada sisi utara dan selatan dewala ini berkesinambungan dengan tembok setebal 50 m dan tinggi 130 meter, yang diduga merupakan pembatas antara lingkungan Dalam (kraton) dengan taman. Namun, lagi-lagi dikemudian hari tembok tersebut tidak diketemukan lagi akibat pembangunan tata ruang kota Banda Aceh.

Masih berdasarkan catatan sejarah, diketahui Kompleks Gunongan pernah dieskavasi (penggalian kepurbakalaan) oleh tim dari Direktorat Purbakala, Jakarta. Eskavasi ini dipimpin oleh Hasan Muarif Ambary pada 1976. 

Dalam eskavasi tersebut, ditemukan banyak kepingan-kepingan emas dan juga ditemukan sebuah keranda berlapiskan emas. Diperkirakan, keranda tersebut adalah milik Sultan Iskandar Tsani, menantu Sultan Iskandar Muda.

Emas-emas hasil penggalian tersebut kemudian diboyong ke Jakarta untuk disimpan di Museum Nasional Jakarta dan sebahagiannya di Museum Negeri Aceh. Namun, tidak dijelaskan berapa jumlah kepingan emas temuan tersebut secara terperinci.

“….dan tiada-lah hamba panjangkan kata beberapa dari kekayaan Allah s.w.t yang gharib. Dan sakalian dalam taman itu daripada sarwa bagai buah-buahan daripada buah serbarasa, dan buah tufah, dan buah anggor, dan buah tin, dan delima, dan buah manggista, dan buah rambutan…” tulis Nuruddin dalam Bustanussalatin.[]