Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai

“Tup,” suara benang layang Bima putus. Sudah beberapa pekan mereka membuat dan bermain layang-layangan di tepi laut kampung Belukar. Kerana sekarang lagi musim/waktunya orang-orang bermain layang-layangan baik yang sudah tua apalagi anak-anak, dan bukanlah ini kejanggalan. Namun sudah menjadi kebiasaan pada waktunya.

Bukan hanya di kampung itu sahaja akan permainan layang-layangan ada, akan tetapi pada sekalian kampung-kampung lainnya adalah yang bermain layang. Dan ada masa-masa tertentu, begitu juga dengan permainan-permainan lainnya. Permainan kandang (patok lele), kelereng, pet (petak umpet), dan banyak permainan lainnya yang merupakan bagian dari budaya.

Dan tempo/musim permainan tersebut seperti sudah terjadwal dengan sendirinya, hanya waktu sahaja yang menentukan itu. Dan untuk sekarang ini layang-layangan yang tengah ramai mereka mainkan. Di tanah lapang adalah tempat biasanya, bagi mereka yang tinggal di pegunungan areal persawahan adalah tempatnya. Biasanya sesudah musim panen (Setelah padi sudah di panen semua) tiba.

“Hei, benang layangku sudah putus,” sorak Bima. Ia memberitahukan sekalian rakan-rakan mainnya itu. Beberapa dari mereka terlihat ikut mengejar layangnya Bima yang sudah putus dan sekarang lenggak-lenggok dibawa terbang angin. Sambil bersorak ria mereka terus mengejar.

“Ke sana, ke sana,” terdengar salah seorang rakan Bima berkata-kata dengan suara lantang. Sembari terus mengejar dan terlihat kesenangan akan kesenangan di wajah-wajah mereka yang tengah mengejar layang-layang tersebut. Bisa dikatakan mengejar layang putus adalah bagian dari moment yang ditunggu-tunggu, kerana kesenangan yang tiada bisa dilukiskan adanya di kala mengejar layang-layang putus tersebut.

“Ha ha ha, layangnya tersangkut di pohon jumblang,” Bima yang bersorak ria itu. Bukan sedih malahan ianya ikut bahagia ketika layang yang putus itu kini tersangkut di pepohonan, itulah kesenangan. Ruri pun memanjat pohon jumblang tersebut. Dari tepi laut kampung mereka sekarang layang itu sudah berada di perkampungan, bersabab benang putus dan dibawa angin.

Pun demikian, hari-hari terus berlalu. Beberapa pekan ini anak-anak tiada sabar menunggu waktu sore. Yaitu untuk melihat mereka yang akan main layang-layangan adapula yang mahu mencari bambu untuk dibuatnya akan layang-layangan tersebut. Layangan itu ada beberapa model dan bambu yang digunakan pun ada model-model tersendiri juga.

“Makyu, layang elangmu sudah siap?” Anas yang bertanya itu. Mereka adalah dua orang muda di antara pemuda-pemuda lainnya yang masih ikut bermain layang-layangan. Sekarang mereka berada di kedai kopi. Dan Anas yang baru sampai langsung bertanya demikian pada sahib karibnya itu.

“Tidak, sudah dua hari a tidak membuatnya (layang-layang), kerana lagi banyak tugas kampus dan sampai pada hari ini belum juga selesai sekalian tugas itu,” Makyu menjawab pertanyaan Anas. Sembari ianya mempersilahkan rakannya tersebut untuk duduk di sebelahnya, yaitu untuk mudah ianya bertanya akanpada rakan tersebut.

Mereka duduk di sudut kedai kopi yang berada di kampung Belukar, permasalahan pada layang-layang seperti terlupakan oleh mereka itu. Dan sekarang terlihat sangat sibuk mencari bahan, membuat tugas kampus. Dan sesekali terdengar suara tawa dari pengunjung lainnya yang berada di kedai kopi itu juga.

Beberapa sa’at telah berlalu. “Kamu kader Partai Aceh, ya? Kalau diperhatikan, ya seperti yang aku katakan ini!” Anas bertanya kepada rakan akrabnya itu yang sangat-sangat sering bercerita tentang Aceh. Walapun sekarang mereka sedang sibuk mencari bahan dan membuat tugas.

“Maksud kamu, apa ini?” Makyu kembali bertanya, dan ia pun terlihat kebingungan oleh sabab pertanyaan tadi. Kerana sekarang ini mereka tiada pun membahas masalah-masalah politik. Tengah musim layang-layangan, mencari bahan untuk tugas. Tiadapun tengah berkampanye.

“Aku hanya bertanya! Iya, hanya bertanya.”

“Tidak, aku bukan dari partai mana-mana. Hanya sahaja Ayah dan seluruh indatuku lahirnya di Aceh, Aku anak Aceh. Dan sampai kapanpun nanti, Aku akan tetap membela/memberikan segalanya yang mampu kuberikan. Kerana aku Aceh,” jawab rakanya itu.

“Kamu dari partai mana, dan indatumu itu siapa?” Makyu berbalik tanya. “Ini apalagi?” Sanggah Anas.

“Aku juga hanya bertanya!” Jawab pemuda yang disebut-sebut oleh rakannya suka menceritakan tentang Aceh itu.

“Aku juga orang Aceh Makyu, walau tidak semua indatuku lahir di tanah Aceh, akan tetapi sampai sekarang ini Aku masih sangat cinta pada tanah (Aceh) ini,” Anas pun menjawab pertanyaan Makyu dengan begitu bersemangatnya. Dan mereka tiada peduli pada sekalian pengunjung kedai lainnya, yang sesekali memperhatikan mereka yang tengah beradu argumen.

Tiada pun usai di situ akanpada perbincangan dua orang muda tersebut, kedai kopi semakin sesak sahaja pengunjungnya. Dan bahkan yang mengunjungi kedai kopi itu bukan sahaja dari mereka yang berwawasan luas.

Namun semua kalangan, terutama mereka yang sangat menjaga akanpada rasa sosial bermasyarakat. Bukan mereka (orang-orang bodoh) yang hanya mementingkan kepentingan kelompok/pribadinya semata.

Hari itu, hujan pun turun. Ianya (hujan) turut meredam/mendinginkan cuaca yang kian tak menentu di hari-hari yang terus berelegi ini. Bima, Ruri dan rakan kanak-kanaknya yang lain harus berbanyak sabar untuk hari ini, oleh kerana hujan yang belum reda, walau hari sudah sore dan sebentar lagi akan gelap.

“Aku sangat sering melihat telapak tanganku ini, untuk tiada lupa akanpada tempat di mana, siapa, kenapa dan semua yang berkaitan dengan diriku. Dan juga berharap kepada sekalian handai taulanku sering-seringlah melihat telapak tangan masing-masing, setidaknya kita sadar bahawa kita adalah seorang hamba yang ber-Tuhan, itu sahaja,” guman Makyu di dalam hatinya. Ia belum bisa tidur walau beberapa menit lagi sudah tiba waktu azan subuh.[]

Penulis, lahir di Bluka Teubai 1990. Salah seorang alumnus Sekolah Hamzah Fansuri, Banda Aceh.