Sore kemarin, di tengah banjir status tentang wafatnya Eyang BJ. Habibie, seorang sahabat saya, yang pernah juga terlibat pada masa pergerakan Aceh (mantan kombatan), menyampaikan sepotong tanggapan manis yang sangat ekspresif dan inspiratif.

Memang, beberapa orang yang tidak “mengenal” betul sosok Eyang, juga merasa sedih dan kehilangan. Apalagi, bagi mereka yang sempat berjumpa, bersama dan mengenal sosoknya lebih dekat, entah lewat buku-buku atau sejenisnya, tentu akan lebih terasa kehilangannya. Bahkan, penulis sendiri beranggapan bahwa kehilangan kita, seperti kehilangan berpuluh tokoh yang berkualitas dengan wafatnya sang ilmuwan ini.

Dalam lini sosial medianya, sahabat saya tadi, yang juga bergiat di jurnalistik dan kerja kebudayaan, menyampaikan tanggapan berikut:

Aku ingin mengucapkan sesuatu untuk yang mulia almarhum BJ Habibie. Akan tetapi, apalah nak kukata, bahwasanya sebagai manusia, ia terlalu sempurna. Ia telah mencapai segala-gala impian manusia yang pernah hidup di bumi: Ia pasangan cinta sejati, orang beriman, organisator ulung untuk membela umat besar ini, penemu teknologi kelas tinggi, pemimpin negara besar, termasyhur, hidup sehat sampai usia tua, kaya raya, disanjung sejak masa muda sampai telah pun ia kembali ke hadirat Allah Ta'ala. Allah yang mengangkat derajat siapapun yang Dia Kehendaki“.

Demikian kata sahabat saya tadi, Thayeb, yang juga penulis novel Aceh 2025 dan Teuntra Atom.[]

Penulis: Taufik Sentana, peminat literasi dan human interest.