WASHINGTON – Pengaruh Al Qaeda di Pakistan kian melemah setelah satu dekade serangan pesawat tanpa awak milik CIA. Mereka memutuskan masa depan kelompok tersebut berada di Suriah dan secara rahasia telah mengirimkan lebih dari selusin veteran yang paling berpengalaman ke negara tersebut. Demikian disampaikan pejabat senior intelijen dan kontraterorisme Amerika dan Eropa seperti dikutip portalsatu.com dari The New York Times, Minggu, 15 Mei 2016.
Barat menilai penilaian Al Qaeda tersebut kian mencerminkan strategisnya Suriah untuk organisasi kelompok radikal Islam. Kehadiran senior jihadis sekaliber Al Qaeda juga dinilai bakal memunculkan eskalasi persaingan berdarah dengan kelompok ISIS.
Para agen telah diberitahukan untuk memulai proses menciptakan markas alternatif di Suriah dan kemungkinan membangun landasan untuk mendirikan sebuah emirat melalui afiliasi Al Qaeda Suriah, The Nusra Front. Kelompok tersebut menjadi saingan kuat setelah keluar dari ISIS pada 2013 lalu. Masih menurut sumber The New York Times, kondisi ini akan menjadi perubahan signifikan untuk Al Qaeda dan afiliasinya, setelah menolak menciptakan sebuah emirat atau negara yang berdaulat secara resmi, sebelum benar-benar siap di lapangan.
Al Qaeda telah keluar dari Suriah selama bertahun-tahun. Ayman al-Zawahri, pemimpin tertinggi kelompok tersebut kemudian memilih Pakistan. Dia merupakan utusan Al Qaeda untuk memperkuat The Nusra Front pada 2013. Zawahri juga diduga dikirim ke Suriah untuk merencanakan serangan terhadap Barat.
“Kombinasi dari emirat Al Qaeda dan kepemimpinan pusat Al Qaeda direvitalisasi di utara Suriah akan merepresentasikan dan meningkatkan kepercayaan untuk merek global organisasi jihad ini,” ujar Charles Lister, peneliti senior di Institut Timur Tengah.
“Al Qaeda akan menampilkan diri sebagai gerakan jihad yang cerdas, metodis dan secara gigih menunjukkan bahwa mereka berbeda dengan ISIS, telah mengadopsi strategi yang lebih selaras dengan Muslim Sunni sehari-hari,” tulis Mr Lister.
Lister mengungkapkan sebenarnya Al Qaeda dan ISIS memiliki tujuan akhir yang sama untuk menciptakan sebuah negara Islam. Namun dua organisasi ini menggunakan taktik yang berbeda untuk mencapai tujuannya. ISIS bergerak cepat untuk menjalankan programnya memegang kendali di wilayah Irak dan Suriah serta mendeklarasikan kemerdekaannya. Sementara The Nusra Front baru sebatas menanamkan pengaruh di dan mengontrol kelompok-kelompok pemberontak Suriah untuk menentang pemerintahan di bawag Presiden Bashar al-Assad. (Selengkapnya baca di The New York Times).[](bna)

