Salah seorang ulama yang berasal dari Sulawesi adalah Syekh Yusuf seorang ulama tasawuf, ahli tarekat, beliau menyiarkan agama Islam di Sulawesi Selatan, Banten, Seylan, dan Afrika Selatan. Nama lengkapnya adalah Syekh Yusuf Abu al-Mahasin Hidayatul Taj al-Khalwati al- Makassari. Menurut berbagai sumber Syekh Yusuf dilahirkan pada 8 Syawwal 1036 H atau 3 Juli 1626 M di Moncong Loe Gowa (Sulawesi Selatan). Ada sumber yang menyebutkan bahwasanya Syekh Yususf adalah anak dari perkawinan singkat antara seorang laki-laki tua dari desa Ko’ Mara dengan seorang putri Gallarang Moncong Loe. Ketika mereka bercerai sang ibu sedang hamil kemudian dikawini oleh raja Goa I (Manggarani Daeng Mentabbia Sultan Abdullah 1593-1639). [1]

Syekh Yusuf keika dilahirkan, sang raja tetap menganggapnya seperti anaknya sendiri dan Syekh Yusuf dibesarkan di lingkungan istana. Sejak kecil dia telah mendapatkan pendidikan Islam dan dalam usia yang muda ia telah mampu menghafal Al-Quran dan telah mempelajari ilmu-ilmu Nahu, Saraf, Balaghah, Mantiq, Fiqh, Ushuluddin, dan Ilmu Tasawuf. Namun yang paling menarik perhatian beliau adalah Ilmu Tarekat dan Tasawuf.

Dalam usia relatif sangat muda itu, beliau berangkat menuju ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanan tersebut beliau singgah di Banten dan Aceh, di sini beliau sempat menuntut ilmu pada beberapa ulama yang terkenal pada waktu itu. Setelah melaksanakan ibadah haji, Syekh Yusuf menetap di Madinah untuk memperdalam ilmunya dan di sini beliau memperoleh berbagai ijazah tarekat. Selanjutnya beliau Pergi ke Yaman, di sini beliau mendapat gelar Taju al-Khalwati dari Syekh Abu Barkati Ayyub bin Ahmad Ayyub al-Khalwati al-Quraisyi.

Pengembara ilmu yang relatif lama di jazirah arab. Akhirnya Syekh Yusuf kembali ke Indonesia pada tahun 1672 M, namun tidak ke kampung halamannya, karena pada waktu itu Gowa telah dikuasai oleh Belanda. Melihat keadaan demikian, beliau pergi ke Banten dan mengabdikan diri pada Sultan Agung Tirtayasa dan menjadi panglima, serta ikut melawan Belanda.[2] Saat terjadi peperangan melawan Belanda Syekh Yusuf ditangkap, dan dibuang ke Pulau Seylan pada Tanggal 12 September 1684. Di sini beliau tetap menjalankan kegiatan-kegiatan dakwah dan pendidikan. Karena kegiatan-kegiatan tersebut membahayakan Belanda, pada tanggal 7 Mei 1693 beliau dipindahkan lagi ke Tanjung Harapan. Dan beliau meninggal pada usia 73 tahun, tepatnya pada tanggal 7 Mei 1699, dan dimakamkan di Faure, di perbukitan pasir False Bay, tidak jauh dari tanah pertanian Zandvliet.[3]

 

Regenerasi ilmupun perlu dilestariakn. Beliau sebagai seorang ulama dan ahli sufi merealisasikan regerasi ilmu lewat karangan dalam bentuk kitab dan naskah. Diantara Karangan Syekh Yusuf  yaitu: AlRisalah Al-Naqsyabandiyah, Fath Al-Rahman, Zubzah  Al-Asrar, Al-Tuhfah  Al-Sailaniyah, Asari Al-Shalaa, Tuhfah  Al-Rabbaniyah, Safinah Al-Najah, Tuhfah Al-Labi. Masih banyak lagi buah karya beliau lain dalam bentuk risalah pendek yang berisikan pesan-pesan kerohanian.[4]

 

Sebuah kesimpulan yang bisa dipetik dari uraian diatas adalah bahwasanya Syekh Yusuf merupakan seorang ulama dan tokoh sufi yang banyak berjasa dalam mengembangkan ajaran Islam, mengajarkan pendidikan dan menyebarkan Tarekat Naqsyabandiyah, terutama di Indonesia, hal tersebut juga diikuti oleh murid-murid beliau dalam mengembangkan  dan menyebarkannya ke seluruh Nusantara sebagai mana yang telah dirintis oleh gurunya.

 


[1]Taufik Abdullah .. Ensiklopedi Tematis .., h.150.

[2] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah….h. 286.

[4] Taufik Abdullah… Ensiklopedi Tematis…, h. 124.[]

*Helmi Abu Bakar El-Langkawi, Staf Pengajar di Dayah MUDI Mesjid Raya, Samalanga dan Sekretaris LP2M IAI Al-Aziziyah Samalanga.