SEBAGAI seorang sufi plus ulama. Beliau Syekh Abuya Muda Waly bisa dikatakan sebagai Mujaddid  yang telah berjasa mengembangkan amalan suluk dan tawajuh melalui Tarekat Naqsyabandiyah terutama di daerah Aceh. Syekh Muhammad Waly Al-Khalidy telah memperkaya kepustakaan Tasawuf  Indonesia dengan berbagai karya tulisannya.

Di antara karya tulisnya yang juga dipakai sebagai panduan dalam mengamalkan Tarekat Naqsyabandiyah antara lain: Risalah Adab Zikir Ism dalam Tarekat Naqsyabandiyah (dalam bahasa Melayu).

Kitab Ubat Hate, Nadham Munajat Yang Diberkati Bagi al-A’liyat al-Naqsyabandiyah (teks amalan dalam bahasa Arab disertai terjemahan bahasa Aceh), al-Fatawa, di dalamnya berisikan berbagai fatwa hukum-hukum Islam. Tanwiru al-Anwar fi Izhar Khalal ma-fi Kasyf al-Ansar (dalam bahasa Melayu) yang di dalamnya berisikan tentang doktrin amalan sufi. Karya tulis ini selesai ditulis 14 Jumadil Akhir, malam Selasa tahun 1344 H, dan selesai disalin pada 15 Ramadhan 1379 H/ 13 Maret 1960 M.[1]

Demikianlah perjalanan hidup Syekh Muda Waly al-Khalidi, dengan kegigihan usaha beliau dalam menuntut ilmu serta mengembangkan ilmunya kepada masyarakat sehingga Tarekat Naqsyabandiyah dan tradisi amalan suluk sudah berkembang dalam kehidupan masyarakat di Aceh dan kegiatan tersebut masih terlihat sampai sekarang ini.

Setelah Syekh Muda Waly meninggal dunia, usaha pengembangan Tarekat Naqsyabandiyah di Aceh dilanjutkan oleh anak-anaknya antara lain: Abuya  Muhibbudin Waly, Abuya Jamaluddin Waly, Abuya Nasir Waly dan Abu Ruslan Waly. Abuya Muhibbudin Waly merupakan anak tertua dari Syekh Muda Waly, beliau mendapat pendidikan agama langsung dari bapaknya sampai mendapat ijazah mursyid Tarekat Naqsyabandiyah  al-Waliyah.

Sebagai pewaris tradisi pendidikan agama yang ditinggalkan oleh sang ayah, Abuya Muhibbudin Waly mengembangkannya di berbagai dayah di Aceh dan Malaysia. dan sekarang menjadi mursyid tertinggi Tarekat Naqsyabandiyah di Aceh atau lebih dikenal dengan sebutan ”Sayyidul Mursyidin”.[2]

Hasil usaha dan berkat perjuangan beliau Tarekat Naqsyabandiyah masih terkenal dan banyak pengikutnya di Aceh dan banyak murid-murid beliau yang menyebarkan ajaran tarekat ini,

[1] Tim Penulis IAIN al-Raniry, Ensiklopedi pemikiran…, h. 322.

[2] Sehat Ihsan Shadiqin, Tasawuf Aceh, (Banda Aceh: Bandar Publishing, 2009), h. 149.[]

*Helmi Abu Bakar El-Langkawi, Staf Pengajar di Dayah MUDI Mesjid Raya, Samalanga dan Sekretaris LP2M IAI Al-Aziziyah Samalanga.