IBADAH suluk mempunyai maqam-maqam tersendiri. Sebenarnya zikir dalam tawajuh non suluk juga amalan zikir suluk yakni ismu zat. Namun disini penulis ingin menguraikan maqam zikir dalam suluk secara khusus. Zikir dalam tarekat Naqsyabandi itu bertalaqqi atau berjenjang.  Maqam zikir dalam amalan suluk yaitu: pertama Maqam pertama Zikir Mukasyaf. Maksud maqam ini yaitu zikir dengan menyebut nama  “Allah”  dalam hati sebanyak 5000 kali sehari semalam.
 
Kedua, maqam kedua  Zikir Lathaif . Bentuk Jamak dari Lathifah adalah Latha’if, menurut Mir Valiuddin, Lathataif adalah sesuatu yang dipahami , tetapi tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Lathaif adalah suatu alat pemahaman spritual. Ia bukanlah bukanlah sebuah entitas fisikal, melainkan entitas spritual. zikr lathaif yaitu zikir sebanyak 11000 kali dengan menyebut nama Allah dalam hati, dalam jumlah dan maqam yang berbeda. Maksud dari lathaif ialah suatu tempat yang sangat halus lagi alat yang terpenting yang dirahasiakan dalam tubuh manusia. Adapun maqam (maqam) dalam zikir lataif ini ada tujuh macam yaitu: pertama, Lathifatul Qalbi, Zikir sebanyak 5000 kali, ditempatkan di bawah  susu   kiri kurang lebih dua jari ke arah dada. Kedua, Lathifatul Ruh, zikir sebanyak 1000 kali, di atas dada kanan, kira-kira dua jari ke kanan. Ketiga, Lathifatul Sirri, yaitu zikir sebanyak 1000 kali, di atas dada kiri kira-kira dua jari ke kanan. Keempat Lathifhatul Khafi, zikir 1000 kali di atas dada. Kelima, Lathifatul Akhfa, Zikir 1000 kali di tengah-tengah dada. Keenam, Lathifatul Nafsin Nathiqah, zikir 1000 kali di atas kening. Ketujuh, Latihfatul Jami’ul A’dhaa, zikir 1000 kali di seluruh tubuh.
 
Ketiga, maqam Zikir Nafi Isbat.Zikir ini dengan menyebut kalimat  “laailaaha illah” di dalam hati yang jumlah bilangannya ditentukan oleh mursyid. Sedangkan pelaksanaannya ada dua macam, pertama, cara Naik, yaitu mula-mula hendaklah dimulai zikir itu dari pusat dengan kalimat “Laa” dan terus naikkan dengan isyarah kepala melalui tengah dada langsung ke ubun-ubun dan dari situ palingkan isyarah muka ke bahu kanan dengan kalimat  “Ilaaha”. Kedua, cara Turun, yaitu mulai dari bahu kanan, turunkan dengan kalimat “ illallahu” Serta isyarah pukulan angguk kepala sebagai pukulan yang berat langsung kepada hati sanubari di dalam qalbi di bawah susu kiri, sesuai dengan garis seumpama benang yang telah direntangkan menurut gambar huruf”Lam”, hamzah terbalik. Berulang-ulang kali dikerjakan demikian dengan hati.[]

* Helmi Abu Bakar El-Langkawi, Staf Pengajar di Dayah MUDI Mesjid Raya, Samalanga dan Sekretaris LP2M IAI Al-Aziziyah Samalanga