BANDA ACEH – Lemang merupakan jajanan yang banyak ditemukan di beberapa daerah di Sumatera termasuk Aceh. Menikmati jajanan yang dimasak di dalam tabung bambu ini akan semakin nikmat jika disantap dalam keadaan masih panas. Makanan ini sering dijumpai saat bulan puasa dan Idulfitri.
Di Tanah Rencong, meulumang (berlemang) sudah menjadi tradisi masyarakatnya. Makanan ini tak pernah absen dalam kegiatan keagamaan dan hari-hari besar dalam budaya serta adat Aceh, apalagi saat bulan puasa. Itu semua dilakukan semata-mata untuk peumulia jame (memuliakan tamu).
Dilansir wikipedia.comm, lemang berasal dari tiga negara yakni Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Lemang ini merupakan kudapan khas Indonesia.
Di Serambi Mekkah, makanan ini merupakan pendatang, yang dibawa oleh pedagang kemudian menetap dan menjadi makanan khas Aceh untuk jamuan istimewa Kesultanan Aceh pada masa itu.
Pemerhati Sejarah dan Budaya Aceh, Tarmizi Abdul Hamid mengatakan, Aceh merupakan daerah peradaban dan central dari perdagangan dunia, terutama rempah-rempah. Kemudian, masing-masing pendatang ini membawa tradisi makanannya tersendiri untuk dikembangkan di Aceh.
“Banyak para pendatang yang notabenenya berdagang membawa kulinernya lalu menetap dan menikah dengan orang Aceh, sehingga makanan yang dibawanya tersebut menjadi milik orang Aceh,” kata Tarmizi A. Hamid saat dijumpai portalsatu.com/ di salah satu warkop kawasan Lampineung, Selasa, 12 Mei 2020, malam.
Tarmizi mengibaratkan seperti menulis manuskrip, seorang ulama Arab Saudi menulis manuskrip di Aceh, kemudian lama menetap di Aceh maka ia menjadi ulama Aceh, asalnya saja dari Arab Saudi.
Kolektor manuskrip kuno ini juga menjelaskan, lemang ini adalah makanan raja-raja pada masa Kesultanan Aceh saat itu. Ketika raja menerima tamu, maka lemang menjadi hindangan dalam memuliakan tamu. Tidak hanya itu, setiap acara keagamaan, lemang selalu hadir sebagai pelengkap dari kegiatan itu.
“Ketika raja menerima tamu, lemang dihidangkan sebagai manakan, di samping juga ada makanan khas Aceh lainnya. Begitu juga dalam acara keagamaan,” ujar Tarmizi.

Sebagai makanan yang hanya ada di bulan Ramadan, lemang ini dibuat oleh orang-orang khusus dan berpengalaman. Di samping itu, sabar menjadi kunci utama dalam proses membuat lemang, dan sudah turun temurun dilakukan sehingga sudah terbiasa.
“Pembuatannya harus ada koki khusus, harus ada keahlian. Bukan sembarang buat, semua itu memerlukan ketelitian, sehingga menghasilkan rasa yang nikmat,” ungkapnya.
Keahlian membakar lemang, kata Tarmizi, bukan hanya lihai meracik bahan-bahan dengan apik, namun sampai temparatur bara api juga ditentukan menurut nalar sang pembuat. Agar mendapatkan tingkat kematangan yang merata dan sempurna.
Pria yang akrab disapa Cek Midi ini juga menyampaikan, kuliner yang dibawa oleh pendatang ke Aceh sudah banyak mengalami perkembangan seiring bergantinya generasi. Kemudian juga banyak bumbu-bumbu masakan sekarang yang instan.
“Karena Aceh ini peradabannya tinggi, sehingga orang banyak datang ke sini. Kemudian dia kembangkan, dan disambut oleh generasi tradisi sekarang,” jelasnya.
Negeri berjulukan Serambi Makkah merupakan negeri kaya akan rempah-rempah, tak heran kuliner di Aceh ini sangat diminati pelancong dari lokal maupun mancanegara. Pasalnya, setiap rempah-rempah yang dihasilkan dari Aceh mempunyai khasiat dan diyakini bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
“Rempah-rempah yang tumbuh di Aceh bisa menjadi imun bagi tubuh. Banyak dedaunan manjadi bumbu masakan. Begitu juga dengan lemang, dibalut dengan daun pisang muda, itu semua ada khasiat dan filosifinya,” pungkas Tarmizi.
Saat Ramadan, lemang menjadi primadona untuk menu berbuka puasa. Selain lemang, juga banyak kudapan lainnya untuk berbuka, tentu semua makanan itu mempunyai filosofi yang terkandung di dalamnya, sehingga kuliner ini banyak diburu masyarakat.[]






