BANDA ACEH – Dosen Politik FISIP Universitas Malikussaleh, Taufik Abdullah, mengatakan visi besar kebudayaan harus berkorelasi lurus dengan misi damai Aceh. Dia menyebutkan mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry sangat relevan menghadirkan diri sebagai kader-kader muda humaniora dalam rangka mengemban misi damai Aceh yang utuh dan sempurna.

“Jika dulu, ada dua tokoh legendaris, Muhammad Nazar dan Faisal Ridha di sini, sebagai pejuang referendum, maka mulai sekarang kalian harus tumbuh dan berkembang sebagai pejuang perdamaian yang berwawasan kebudayaan,” ujar Taufik Abdullah saat mengisi pembekalan mahasiswa baru dengan tema, “Membangun karakter dan intergritas mahasiswa yang relegius, intelektual dan nasionalis”, yang digelar FAH UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, 27 Agustus 2019. 

Menurut Taufik Abdullah, peran mahasiswa tetap krusial sebagai agent of change, moral of force, dan sebagai pengerak social control. “Kajian ilmu-ilmu humaniora sangat relevan dalam merawat dan menumbuhkembangkan perdamaian dengan segenap persoalan yang masih membelenggu, tentu menunggu peran mahasiswa. Mahasiswa Fakultas (Adab dan Humaniora) ini harus berproses secara akademik, lalu secara kontekstual bernilai guna menjadi suluh perdamaian bangsa,” kata Taufik sebagaimana rilis dikirim Septian Fatianda, Ketua Dewan Mahasiswa FAH UIN Ar-Raniry kepada portalsatu.com/.

Sebagai suluh bangsa, Taufik sepakat mahasiswa perlu ditanami nilai-nilai akademik secara terus-menerus. Pertama, mahasiswa masih perlu ditanamkan nilai-nilai karakter; moralitas, etika dan akhlak mulia. Kedua, integritas, yaitu memiliki kepribadian yang kokoh dan kuat dalam kebaikan. Ketiga, nilai-nilai relegius, yaitu memegang teguh prinsip amal makruf nahi mungkar. Keempat, intelektualitas yaitu menjunjung tinggi keilmuan, etika akademik, berpikir logis dan rasional, jujur dalam sikap dan perbuatan. 

Keempat nilai ini, menurut Taufik sebagai pembentuk kesadaran nasionalistik. Sikap patriotik, yang siap bela bangsa dan bela negara, taat hukum, memperjuangkan demokrasi, hak asasi manusia, keadilan berbangsa, gerakan anti korupsi, mendorong pemerintahan yang baik, peduli lingkungan. “Dan yang terpenting menjadi warga yang siap membela kebenaran secara konstitusional, serta memperjuangkan perubahan sosial politik adalah tuntutan akademik,” ujar Taufik yang juga alumni IAIN (sekarang UIN) Ar-Raniry.

Taufik mengingatkan, tuntutan akademik dan kontekstualisasi minat dan keilmuan haruslah berproses dengan realitas. Mahasiswa bukan saja dituntut menyelesaikan kuliah tepat waktu, tetapi yang terpenting berproses dalam atmosfir akademik. Trilogi pendidikan, penelitian dan pengabdian hendaknya diaktualisasikan oleh mahasiswa dengan baik. Indeks Prestasi Akademik belum menjamin keberhasilan seorang mahasiswa suatu hari kelak, tanpa mau berproses dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan selama menempuh perkuliahan. 

Lebih lanjut Taufik mendorong mahasiswa untuk aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan. IPK bagus penting, tapi berproses dalam berbagai aktivitas kampus, misalnya berorganisasi baik intra maupun ekstra kampus, sangat diperlukan. Aktualisasi akademik melalui program magang, student exchange, fiel triep, program bakat minat, training, seminar, stadium general, dan program enterprenuership, akan memberi nilai lebih bagi mahasiswa. 

“Kalian tidak boleh lewati hal-hal seperti ini, karena begitu selesai, maka pengalaman ini tidak mungkin berulang. Jadi, perkuliahan ini sebenarnya pengalaman rekreasi yang menyenangkan setiap hari, di kampus tercinta ini,” kata Taufik.

Selain Taufik Abdullah, narasumber lainnya yang tampil dalam pembekalan itu, Zahrul Fadhi Johan (Dosen Ilmu Budaya, Institut Seni Budaya Indonesia-ISBI Aceh. Dalam ulasannya, Zahrul menekankan peran mahasiswa agar lebih dinamis dan berdaya guna. Mahasiswa baru tidak diarahkan sekadar menggali keilmuan secara teoritis, tapi mampu mengaktualisasikan diri dari awal perkuliahan secara nyata dalam berbagai manifestasi bakat minat yang berbasis keilmuan humaniora. 

“Aktualisasi berbasis keilmuan tentunya penting, tetapi mengali hubungan erat persoalan sosial politik dengan ilmu budaya sangat krusial. Ini karena bangsa dan negara kita masih gersang dalam nalar, nilai dan aktualisasi budaya. Perancis memulai perubahan dan kemudian melahirkan ledakan perubahan pada segala bidang dimulai ketika mereka membangun narasi besar tentang kebudayaan,” kata Zahrul, sambil mengulas pengalaman revolusi di Perancis.  

FAH UIN Ar-Raniry memang melahirkan pakar sejarawan, sastrawan, dan pustakawan. Namun melalui nilai-nilai akademis mampu mengembangkan diri lebih luas dalam berbagai kajian secara spesifik, terutama dalam menjawab tantangan budaya dan kebudayaan. Menurut Zahrul, Aceh masih butuh narasi besar tentang kebudayaan yang bermartabat. “Kondisi Aceh masih karut-marut; miskin budaya dan miskin sastra, juga miskin pemahaman sejarah.  Padahal semua khasanah ini cukup tersemai dalam perjalanan peradaban Aceh,” tuturnya.  

Menurut Zahrul, gerakan sadar budaya cukup krusial dan kontekstual meretas zaman. Mahasiswa harus tetap memposisikan dirinya sebagai pelopor perubahan. “Artinya kalian dituntut agar aktif dan terlibat dalam berbagai persoalan masyarakat, bangsa dan negara. Misi kebudayaan sangat kontekstual dengan kondisi Aceh hari ini,” kata alumni UIN Ar-Raniry ini.

Septian Fatianda dalam rilisnya juga menyampaikan antusiasme mahasiswa baru menanyakan tentang aktualisasi peran mahasiswa dalam mengemban misi kebudayaan dan perdamaian dalam konteks keacehan. Baik Zahrul maupun Taufik mengingatkan bahwa peran sosial politik gerakan mahasiswa dalam memperjuangkan perubahan, tentu berbeda konteks, ruang, waktu dan momentum. 

Era reformasi dan perjuangan gerakan mahasiswa pada era sekarang tentu beda kondisinya, juga dinamika yang memengaruhinya.  “Namun, saya melihat idealisme berbuat baik di kalangan terbatas mahasiswa, khususnya di kampus ini masih ada. Tidak perlu kalian membayangkan kehebatan gerakan mahasiswa masa lalu, sehingga harus dipuja-puja, tidak perlu itu, sebab yang kita tuju adalah masa depan,” kata Taufik.

Bagi Zahrul, kesadaran nasionalistik dalam konteks keacehan harus diterjemahkan secara benar agar peran mahasiswa lebih mengedepankan intelektualisme dalam gerakannya. 

“Kami menawarkan gerakan kebudayaan dan gerakan perdamaian, yang tentu harus kalian terjemahkan dalam kegiatan akademik nantinya, dan dalam kegiatan kemahasiswaan. Ini karena perdamaian Aceh masih butuh narasi besar dari mahasiswa UIN Ar-Raniry ini,” kata Taufik Abdullah.

Menurut Septian Fatianda, pihaknya juga mengundang sejumlah aktivis lainnya dalam rangka orientasi pembekalan budaya akademik dan kemahasiswaan bagi mahasiswa baru di kampus itu. Di antaranya, tokoh aktivis legendaris Muhmmad Nazar (mantan Wakil Gubernur Aceh/Ketua Umum Partai SIRA), dan Faisal Ridha (Staf Ahli DPR-RI PKB/Ketua Majelis Tinggi Partai SIRA). Namun, keduanya berhalangan hadir.

Sejumlah alumni UIN Ar-Raniry yang berkarier di birokrat, rata-rata menduduki jabatan strategis pada sejumlah instansi Pemerintah Aceh juga diundang sebagai pemateri. Di antaranya, Ichwanul Fitri (Dispora), Safwan (Dinsos), Khudri (BPSDM Aceh), Mukhsin (Badan Dayah) dan Saifullah (Kemenag Aceh). Akan tetapi, karena berbagai kesibukan, mereka juga batal mengisi kegiatan pembekalan tersebut. 

“Menghadirkan mantan aktivis kampus bukanlah untuk mengembosi, tetapi bertujuan menginspirasi, sehingga bisa memompa spirit mahasiswa baru agar mendapat wawasan dan pengalaman dari para alumni. Keberadaan alumni yang menyebar di berbagai instansi pemerintah, politisi (politikus), aktivis, akademisi maupun swasta dengan berbagai profesinya, kita undang untuk mendapatkan perbandingan konteks budaya akademik dan kontekstualisasinya pada era reformasi dulu, dan untuk kebutuhan masa kini.  Ke depan kita berupaya semua alumni dapat memberikan sumbangsihnya untuk kemajuan fakultas,” kata Septian.[]