LHOKSUKON – Harga telur sejak beberapa hari terakhir di kawasan Kota Pantonlabu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, melonjak hingga Rp42 ribu per papan (30 butir). Hal ini membuat konsumen mengeluh, apalagi telur balado menjadi salah satu menu dalam sajian bue molod (nasi maulid).

“Kami menjual telur ke pedagang dengan harga Rp40 per papan, mengingat harga telur saat ini memang mahal. Para pedagang biasanya menjual kembali dengan harga Rp42 ribu per papan, bahkan ada juga di atas harga tersebut,” kata Junaidi, 30 tahun, distributor telur di Pantonlabu kepada portalsatu.com, Sabtu 10 Desember 2016.

Menurutnya, meski harga tergolong mahal, tapi permintaan dari masyarakat cukup tinggi, mengingat saat ini memasuki bulan maulid.

“Para relawan yang melakukan penggalangan dana untuk korban gempa Pidie Jaya, juga membeli telur dalam jumlah banyak. Telur-telur itu disalurkan kepada korban gempa, tapi harga telur naik bukan karena musibah gempa bumi,” ujar Junaidi.

Nurma, 35 tahun, pemilik kios kecil di kawasan Gampong Samakurok, Tanah Jambo Aye menyebutkan, selama harga telur melambung, ia kesulitan menentukan harga eceran telur per butir.

“Bingung mau jual berapa per butir. Jika dijual Rp1.500, maka keuntungan sangat tipis. Biasanya Rp5.000 per tiga butir. Namun di kios-kios kawasan pedalaman, harga jual telur mencapai Rp2.000 per butir,” jelasnya.

Ia menambahkan, naiknya harga telur seolah sudah menjadi langganan menjelang maulid. “Nan jih manteung molod, pasti perle boh manok keu tambahan hidang lam daloeng. Pu lom menyoe bu minyeuk, pane mangat meunyoe hana boh manok sambai. Adak meuhai pih lagot (Namanya juga maulid, pasti butuh telur sebagai pelengkap menu dalam hidangan. Apa lagi jika nasi minyak, mana enak jika tidak ada telur balado. Meski mahal tetap laku),” ucap Nurma.[]