Hati dan akal memiliki kerajaannya sendiri. Akal menanam pengalaman dan pengetahuan, sedang hati menanam perasaan dan penghayatan. Getar keduanya digerakkan nafsu.  Semakin full nafsu akan kebaikan, maka akal dan dan hati akan mudah menginput dan merespon setiap peristiwa mental ataupun fisikal, sehingga sejalan dengan norma universal dan fitrah Islam.

Hati yang tersakiti bisa jadi menjadi tergetar dan sensitif, tapi seberapa efek positif yang dapat diterbitkan oleh rasa sakit itu? Seberapa banyak kita bisa bertahan dengan rasa sakit, apapun bentuknya? Idealnya rasa sakit itu menggetarkan rasa dan bahkan pengertian kita, bahwa kita lemah dan ada banyak hal yang memang tidak bisa kita kendalikan (pengaruhi).

Demikian pula dengan kegembiraan, ia bisa menggetarkan hati untuk bersyukur syahdu atau berpoya dan berpesta. Bahkan, untuk menggetarkan hati lewat kegembiraan,  ia bisa datang dengan menatap sehelai daun yang sabar menempel dengan kerumitan kerja dalam sistem daunnya. Atau dengan menakar nafas kita yang bebas keluar-masuk hingga aliran darah kita stabil dan tubuh kita normal. 

Sedih dan suka, keduanya dapat memantik  hati agar bergetar, sebagaimana bergetarnya hati oleh lantunan ayat suci atau hanya  lewat peristiwa remeh dalam keseharian kita. Puncaknya, hati yang bergetar itu akan membawa individu pada level insyaf dan kesadaran akan Sumber Segala Wujud.

Taufik Sentana
Banyak menulis prosa dan esai sosial-budaya