Oleh Taufik Sentana*
Empat belas abad lalu
saat wahyu mulia ini dibacakan
(diperdengarkan) dan menjadi panduan laku bagi generasi awal,
Orang orang pada masa itu
belum mencapai pengetahuan
tentang cahaya
dalam makna yang kita kenal sekarang:
Yaitu saat dimana kita telah dapat mengukur berapa kecepatan cahaya
dan mengeja cahaya itu
dengan fisika kuantum
untuk diaplikasikan
dalam wujud peristiwa yang lain.
Sederhananya, seluruh alam benda
dan peristiwa yang dapat-tampak
kita inderawi lewat mata hanyalah
sebab dari cahaya yang menimpa benda dan si pelaku peristiwa. Ketiadaan cahaya akan melumpuhkan keberadaan bendawi kita. Kegelapan akan menghambat usaha kita dalam mencapai tujuan.
Maka sangat indah dan halus
sandingan nama Alquran yang dinisbatkan pada cahaya. Adalah istimewa saat Alquran disebut sebagai cahaya. Yang sejatinya, lewat cahaya Alquran, kita tidak hanya dapat membedakan antara hak dan bathil, bahkan kita dapat “melihat” peta jalan sesudah kejadian kita di dunia. Yang secara praktis, cahaya itu menuntun kita pada “fokus” yang paling lurus saat mempelajari setiap materi alam dan peristiwa keseharian.
Hingga tak berlebih kiranya apa yang diucapkan seorang Sahabat Baginda kita, ” Andai tali untaku hilang, aku akan menemukannya di dalam Alquran”.[]
*Bergiat di Studi Tadabbur Alquran.
Dari Ikatan Dai Indonesia.



