SUBULUSSALAM – Pianti Mala terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Subulussalam dalam Musyawarah Kota (Muskot) III digelar di Hotel Khairulsyah, Kamis, 18 Oktober 2018.
Mantan Ketua DPRK Subulussalam periode 2009-2014 ini satu-satunya yang mendaftarkan diri sebagai calon ketua pada Muskot III Kadin Kota Subulussalam.
Akhirnya, Pianti Mala ditetapkan sebagai Ketua Kadin Kota Subulussalam periode 2018-2023 ditandai dengan penyerahan bendera pataka dari Wakil Ketua Kadin Aceh Bidang Organisasi, Sulaiman Badai kepada Pianti Mala.
Muskot ini dihadiri Wakil Wali Kota Subulussalam, Drs. Salmaza, M.AP., dan puluhan pelaku usaha. Salah satunya, H. Affan Alfian Bintang, S.E., pengusaha sukses dan juga wali kota terpilih yang akan menahodai Kota Subulussalam lima tahun ke depan periode 2019-2024.
Pianti Mala menyampaikan terima atas kepercayaan yang diberikan kepada dirinya untuk memimpin Kadin Kota Subulussalam. Pianti Mala akan memperbanyak kegiatan pelatihan dan pembinaan terhadap pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk melahirkan pengusaha-pengusaha muda.
“Wacana ke depan program melalui Kadin ini melakukan pembinaan, pelatihan UKM, sehingga lahir pengusaha-pengusaha muda dan mandiri. Kita saling share informasi dan masukan apa yang kita kerjakan 5 tahun ke depan,” kata Pianti Mala.
“Pak Wali Kota terpilih (Pak Bintang) ini salah satu pedagang yang sukses, semoga nanti kita bisa bekerja sama,” ujar Pianti Mala.
Affan Alfian Bintang yang juga Ketua Partai Hanura Kota Subulussalam mengatakan, pemerintahan ke depan di bawah kepemimpinanya akan mendukung penuh kegiatan-kegiatan Kadin dalam melakukan pelatihan keterampilan dan pembinaan kepada UKM.
“Ke depan kita akan berdayakan Kadin untuk melahirkan pengusaha-pengusaha muda,” kata Pak Bintang panggilan akrabnya.
Dukungan juga diberikan Wakil Wali Kota Subulussalam, Salmaza untuk memberdayakan pengusaha-pengusaha lokal agar perputaran uang tetap berada di Subulussalam, tidak dibawa ke luar daerah.
Dengan demikian, kata Salmaza, dapat memicu pertumbuhan ekonomi masyarakat. Berbeda kondisi sekarang, kata dia, perputaran uang macet, karena pelaku usaha lokal kurang mendapat perhatian.
“Kita harus berdayakan pengusaha lokal, uang banyak tapi di bawa ke luar. Akibatnya perputaran uang sedikit di Subulussalam menyebabkan perekonomian macet,” ungkap Salmaza.[]




